Poin Penting
- Amar Bank mencatat laba bersih Rp71,12 miliar, tumbuh 5,36 persen secara tahunan dan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.
- Kredit bruto meningkat 30,62 persen menjadi Rp4,16 triliun, melampaui rata-rata pertumbuhan industri perbankan.
- NPL net turun menjadi 0,86 persen, didukung pembaruan sistem credit scoring, komunikasi aktif dengan nasabah, dan kebijakan pencadangan yang konservatif.
Jakarta – PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) membukukan kinerja positif pada kuartal I 2026. Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp71,12 miliar atau tumbuh 5,36 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sekaligus menjadi laba tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Sementara itu, penyaluran kredit bruto bank digital yang berfokus pada segmen ritel dan UMKM ini melonjak 30,62 persen secara tahunan menjadi Rp4,16 triliun, melampaui rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional.
Baca juga: Amar Bank Tebar Dividen Rp110 Miliar usai Cetak Laba Bersih Rp71 Miliar
Kinerja laba dan kredit yang solid juga diiringi dengan perbaikan kualitas aset. Hal itu tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) net yang turun menjadi 0,86 persen pada kuartal I 2026, dibandingkan 1,48 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Credit Scoring jadi Kunci Menjaga Kualitas Kredit
Terkait apiknya kinerja penyaluran kredit dengan NPL yang berhasil ditekan ke 0,86 persen ini, Kepala Divisi Project Khusus Retail Banking Amar Bank, Benyamin Tampubolon menjelaskan bahwa pihaknya bisa membukukan lonjakan penyaluran kredit dengan NPL yang sukses ditekan rendah berkat sistem credit scoring yang berperan krusial dalam menjaga penyaluran kredit tetap prudent.
“Salah satu bagian komponen krusial dari sistem tersebut adalah credit scoring yang senantiasa kami update secara berkala dengan mempertimbangkan tren perilaku yang paling baru,” kata Benyamin saat paparan publik di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.
Baca juga: Bank Amar Bidik UMKM untuk Perkuat Ekonomi Digital
Benyamin menekankan, sistem credit scoring ini sangat berperan krusial dalam melakukan pengecekan latar belakang maupun track record dari debitur Amar Bank yang 86 persen untuk kredit produktif, dimana 55 persen berasal dari segmen UMKM serta 56 persen di sektor riil.
Sistem credit scoring itu, turut diiringi dengan langkah komunikasi aktif yang pihaknya sering lakukan kepada nasabah. Menurut Benyamin, komunikasi aktif ini menjadikan pihak nasabah melihat Amar Bank sebagai partner atau mitra dalam proses pelunasan kredit yang ada.
“Sehingga, Amar Bank senantiasa dilihat sebagai partner oleh nasabah, bukan sebagai pihak yang perlu ditakuti,” sambung Benyamin.
Cadangan Konservatif dan UMKM yang Resilien
Benyamin menjelaskan, rendahnya rasio NPL juga didukung oleh kebijakan pencadangan kerugian yang konservatif sebagai bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian (prudential banking).
“Sehingga, kami meyakini bahwa angka NPL yang rendah itu sudah merupakan hasil pencadangan yang konservatif, dan menunjukkan tingkat kepercayaan kami yang sangat tinggi atas profitabilitas kami ke depannya,” ungkap Benyamin.
Baca juga: BI Rate Naik ke 5,75 Persen, Amar Bank Pilih Tetap Berhati-hati
Selain itu, ia turut mengatakan bila sektor UMKM yang menjadi segmen utama Amar Bank, memiliki tingkat resiliensi yang tinggi terhadap guncangan ekonomi.
Walaupun mereka tetap terdampak, khususnya dari sisi ekspor-impor, sektor UMKM yang dimiliki secara perseorangan atau keluarga, mempunyai mekanisme tersendiri yang tidak serumit dan sebesar korporasi raksasa dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Ini menjadikan mereka lebih efisien dalam menghadapi krisis ekonomi.
“Mereka punya metode bertahan yang berbeda, dan kami cukup salut sih kalau ketemu mereka, mereka resilien. Di tengah kondisi itu, mereka resilien sekali,” tandasnya.
Tetap Prudent di Tengah Pelemahan Rupiah
Di sisi lain, Amar Bank menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat terjadi belakangan ini tidak memberikan dampak langsung terhadap kinerja perseroan.
Meski demikian, bank tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit guna menjaga kualitas aset dan keberlanjutan pertumbuhan bisnis di tengah dinamika ekonomi global. (*) Steven Widjaja


