Poin Penting
- Bluebird mengalokasikan belanja modal sebesar Rp1,7 triliun hingga Rp1,9 triliun pada 2026.
- Mayoritas capex akan digunakan untuk peremajaan armada dan pembelian kendaraan baru.
- Perseroan juga melanjutkan ekspansi armada kendaraan listrik dengan target tambahan 300–400 unit hingga akhir tahun.
Jakarta – PT Blue Bird Tbk (BIRD) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) yang lebih besar pada 2026. Perusahaan transportasi terintegrasi itu mengalokasikan dana sebesar Rp1,7 triliun hingga Rp1,9 triliun untuk mendukung kebutuhan operasional dan pengembangan bisnis di tengah persaingan industri transportasi yang semakin dinamis.
Wakil Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Sigit Priawan Djokosoetono mengatakan, nilai capex yang disiapkan untuk tahun ini lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Perseroan juga telah menganggarkan pembelian kendaraan dalam jumlah yang lebih besar.
“Kita siapkan capex yang lebih besar daripada tahun lalu. Pembelian kendaraan kita, sudah dianggarkan, bisa lebih besar daripada tahun lalu. Tapi tetap kita akan melihat situasi bulan demi bulan, kuartal demi kuartal untuk melakukan adjustment,” ujarnya saat ditemui usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Kamis (18/6).
Baca juga: Kenaikan BBM jadi Sorotan, Bluebird Ungkap Dampaknya ke Bisnis
Sigit menjelaskan, fokus utama perusahaan saat ini adalah menjaga kualitas armada yang beroperasi. Karena itu, sebagian besar alokasi investasi akan diarahkan untuk memastikan armada Bluebird tetap berada dalam kondisi prima dan memenuhi standar layanan yang ditetapkan perusahaan.
“Peremajaan kendaraan itu salah satu standarisasi yang harus kita pegang. Jadi yang paling utama adalah peremajaan dulu. Baru kalau ada upside pertumbuhan, kita tambah untuk growth,” tegasnya.
Langkah tersebut sejalan dengan strategi Bluebird yang selama ini mengedepankan kualitas layanan sebagai pembeda di tengah ketatnya kompetisi industri transportasi.
Menurut Sigit, mempertahankan relevansi layanan menjadi kunci untuk menjaga pangsa pasar di berbagai segmen usaha Perseroan, mulai dari Bluebird, Silver Bird, Golden Bird, Big Bird hingga Cititrans.
“Kita selalu memperhatikan relevansi produk dan layanan kita kepada pelanggan. Yang dijaga adalah keamanan, kenyamanan, standarisasi, kemudahan akses, dan reliability,” kata Sigit.
Perkuat SDM dan Tambah Armada Listrik
Ia menambahkan, keunggulan Bluebird tidak hanya bertumpu pada teknologi maupun armada baru, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang menjadi ujung tombak layanan perusahaan.
“Kita percaya tidak hanya teknologi, tidak hanya kendaraan yang baru. Justru kekuatan kita ada di humannya. Jadi kita akan perkuat di situ, lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya,” imbuhnya.
Sebagai gambaran, sepanjang tahun lalu Bluebird merealisasikan pembelian hampir 6.000 kendaraan. Sekitar 4.000 unit di antaranya digunakan untuk menggantikan armada yang telah memasuki akhir masa operasional.
“Tahun lalu total pembelian hampir 6.000 kendaraan, sekitar 4.000 untuk peremajaan. Tahun ini dibujetkan lebih tinggi daripada itu,” ungkap Sigit.
Baca juga: Rahasia Bluebird (BIRD) Cetak Pendapatan Tertinggi sejak IPO, Strategi 3M jadi Kunci
Selain memperkuat armada reguler, Bluebird juga melanjutkan pengembangan kendaraan listrik sebagai bagian dari transformasi bisnis berkelanjutan. Hingga saat ini, perusahaan telah merealisasikan lebih dari 400 unit armada listrik dan menargetkan tambahan sekitar 300 hingga 400 unit lagi hingga akhir tahun.
“Realisasi sekarang sudah hampir 400 lebih armada listrik. Masih ada tambahan lagi kira-kira 300 sampai 400 armada,” tutup Sigit. (*) Alfi Salima Puteri


