Poin Penting
- Amar Bank mulai membidik industri film sebagai bagian dari fokus bisnis di sektor ekonomi kreatif.
- Karakter bisnis berbasis proyek dan aset berbasis kekayaan intelektual menjadi tantangan dalam analisis pembiayaan.
- Amar Bank menggandeng Badan Perfilman Indonesia dan asosiasi profesi untuk menyiapkan model analisis pembiayaan yang sesuai dengan industri film.
Jakarta – PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) mulai membidik industri perfilman sebagai salah satu fokus pengembangan bisnis di sektor ekonomi kreatif.
Bank digital ini menilai industri perfilman Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar, meski belum banyak digarap perbankan karena karakter bisnisnya berbeda dengan sektor usaha lain.
Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane mengatakan, perseroan memilih tidak memperlakukan seluruh pelaku UMKM dengan pendekatan yang sama karena setiap sektor memiliki karakteristik bisnis yang berbeda.
“Kami tidak ingin melayani UMKM secara seragam karena setiap sektor memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu kami memilih fokus pada ekonomi kreatif, termasuk industri film,” ujar Josua saat ditemui di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.
Ia menuturkan, Amar Bank melihat industri film sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif yang memiliki skala ekonomi menarik sekaligus prospek pertumbuhan yang menjanjikan.
Berdasarkan data GEKRAFS, nilai ekonomi kreatif Indonesia pada 2025 mencapai Rp1.757,87 triliun atau tumbuh 6,86 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.
Dari total tersebut, subsektor film, animasi, dan video menyumbang sekitar 17,59 persen terhadap PDB ekonomi kreatif.
Baca juga: Amar Bank Catat Pertumbuhan Kredit 30 Persen dengan NPL 0,86 Persen, Ini Strateginya
Sementara, studi Badan Perfilman Indonesia (BPI) bersama LPEM UI dan PwC mencatat industri layar Indonesia menghasilkan output ekonomi sekitar Rp130 triliun serta berkontribusi Rp81 triliun terhadap PDB, sekaligus menopang sekitar 387 ribu lapangan kerja.
Prospek industri tersebut juga terus meningkat. Data CINEPOINT menunjukkan pangsa pasar film lokal mencapai 58 persen dari total box office Indonesia sepanjang 2025 dengan jumlah penonton 82,9 juta orang. Angka itu diproyeksikan menembus 100 juta penonton pada 2026.
Bahkan, pada semester I 2026, sebanyak 13 film Indonesia berhasil meraih lebih dari satu juta penonton, menjadi pencapaian tercepat dalam sejarah perfilman nasional.
Tantangan Pembiayaan Industri Film
Meski demikian, Josua mengakui karakter bisnis industri film menjadi tantangan tersendiri bagi perbankan.
“Kalau kita melihat industri film, secara standar analisis perbankan memang sulit. Proyeksi pendapatannya tidak mudah diukur dan aset yang bisa dijadikan agunan juga belum memiliki valuasi yang jelas,” ungkapnya.
Baca juga: Amar Bank Tebar Dividen Rp110 Miliar usai Cetak Laba Bersih Rp71 Miliar
Selain itu, sebagian besar pelaku industri film menjalankan bisnis berbasis proyek (project-based business), sementara nilai ekonominya banyak bergantung pada hak kekayaan intelektual (intellectual property/IP), kontrak, serta hak komersial atas karya yang dihasilkan.
Kondisi tersebut membuat pendekatan pembiayaan di sektor ini tidak bisa disamakan dengan sektor usaha lainnya.
Amar Bank Siapkan Model Pembiayaan
Karena itu, Amar Bank memilih memperdalam pemahaman terhadap ekosistem industri film melalui kolaborasi dengan Badan Perfilman Indonesia dan sejumlah asosiasi profesi.
Langkah itu dilakukan sebagai dasar untuk menyusun model analisis pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik industri perfilman.
“Kami lagi menata supaya risiko bisnis di film itu bisa dianalisis. Jadi kalau ditanya apakah akan membuat pembiayaan yang spesifik untuk industri film, kami menuju ke sana,” ujar Josua.
Baca juga: BI Rate Naik ke 5,75 Persen, Amar Bank Pilih Tetap Berhati-hati
Lebih lanjut, Amar Bank menargetkan sistem analisis untuk mendukung pembiayaan industri kreatif, termasuk sektor film, akan lebih siap digunakan pada November 2026.
“Target kami itu di November nanti ini, sistem-sistem yang bisa digunakan untuk menata analisa tadi tuh harusnya udah lebih siap,” pungkasnya. (*) Ayu Utami


