Poin Penting:
- Danantara akan merekrut warga negara asing untuk memperkuat SDM PT DSI di sektor batu bara, CPO, dan ferro alloy.
- PT DSI ditargetkan mulai beroperasi penuh pada Januari 2027 dengan model bisnis perdagangan komoditas ekspor.
- Pembentukan DSI dilakukan untuk mengatasi praktik under invoicing dan transfer pricing pada komoditas ekspor Indonesia.
Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan merekrut warga negara asing atau talenta global secara bertahap guna memperkuat sumber daya manusia (SDM) PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Langkah Danantara tersebut dilakukan untuk mendukung pengembangan bisnis perdagangan komoditas strategis seperti batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferro alloy.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, mengatakan kebutuhan tenaga ahli internasional disesuaikan dengan kompleksitas sektor yang akan digarap DSI. Menurutnya, perekrutan dilakukan secara global agar perusahaan memperoleh SDM terbaik di bidangnya.
“Jadi dari sisi sumber daya manusia, kami juga rekrut global. Bukan hanya di Indonesia. Semuanya global,” kata Pandu dalam acara Investor Daily Roundtable di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Pandu menjelaskan, sektor perdagangan batu bara misalnya memiliki jumlah trader yang sangat terbatas di tingkat global. Karena itu, perekrutan tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kerja domestik.
Baca juga: Mulai 2027, Negara Ambil Alih Ekspor CPO dan Batu Bara Senilai Rp1.000 Triliun
Danantara Butuh Tenaga Ahli dari Luar Negeri
Menurut Pandu, jumlah trader batu bara di dunia hanya sekitar 2.000 orang. Kondisi tersebut membuat Danantara harus membuka peluang perekrutan tenaga ahli dari luar negeri demi memperkuat operasional PT DSI.
Hal serupa juga terjadi pada sektor CPO dan pembiayaan perdagangan (trade financing), yang sebagian besar tenaga profesionalnya berada di luar Indonesia. Karena itu, strategi perekrutan global dinilai menjadi kebutuhan agar DSI mampu bersaing di pasar internasional.
Meski merekrut talenta asing, Danantara tetap akan melibatkan SDM dari badan usaha milik negara (BUMN). Langkah ini dilakukan agar proses transfer pengetahuan dan pengembangan kapasitas SDM nasional dapat berjalan seiring dengan penguatan bisnis perdagangan komoditas.
Pandu menegaskan pengembangan SDM DSI dilakukan secara bertahap, sama seperti proses pembentukan BPI Danantara yang baru dibentuk tahun lalu.
PT DSI Ditargetkan Beroperasi Penuh pada 2027
Dalam enam bulan ke depan, DSI akan fokus membangun tim untuk tiga sektor utama, yakni batu bara, CPO, dan ferro alloy. Setelah itu, badan ekspor tersebut ditargetkan mulai beroperasi penuh pada Januari 2027.
Pandu mengungkapkan pembentukan DSI berlangsung cukup cepat. Badan ekspor tersebut baru dibentuk pekan lalu dan pada Senin (25/5/2026) resmi menjadi persero BUMN dengan komposisi kepemilikan 99 persen oleh BPI Danantara dan 1 persen oleh Badan Pengaturan (BP) BUMN.
Saat ini, PT DSI dipimpin oleh Luke Thomas Mahony yang telah ditunjuk sebagai direktur utama perusahaan.
Baca juga: Misbakhun Buka Suara soal Pembentukan DSI dan Pengawasan Ekspor Nasional
Danantara Siapkan Strategi Atasi Under Invoicing Ekspor
Pandu menjelaskan pembentukan DSI dilatarbelakangi persoalan under invoicing dan transfer pricing yang selama ini terjadi pada sejumlah komoditas ekspor Indonesia. Pemerintah sebelumnya mempertimbangkan dua opsi pembentukan badan ekspor tersebut, yakni sebagai lembaga pemerintah penuh atau operator bisnis.
Namun, Presiden Prabowo Subianto akhirnya memutuskan agar DSI berada di bawah Danantara.
Dalam implementasinya, DSI akan dijalankan melalui dua tahap. Tahap pertama berlangsung mulai 1 Juni hingga 31 Desember 2026 dengan fungsi sebagai penilai dan perantara antara penjual dan pembeli komoditas ekspor tertentu.
Sementara pada tahap kedua yang dimulai Januari 2027, DSI akan bertindak sebagai pembeli komoditas dari eksportir domestik sebelum menjualnya kembali ke pasar internasional.
“Endgame-nya, paling tidak di Januari (2027), keinginan kami sudah bisa beli dan nanti jual ke market. Harapannya, kami juga bisa mendapatkan harga yang lebih baik dibandingkan saat ini karena semuanya bergantung pada daya tawar (bargaining power),” ujar Pandu.
Langkah Danantara merekrut talenta global dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas PT DSI agar mampu meningkatkan daya tawar perdagangan komoditas Indonesia di pasar internasional. (*)


