Jakarta–Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rupiah terapresiasi terhadap empat mata uang global yakni Dolar Amerika Serikat (AS), Dolar Australia, Yen Jepang, dan Euro pada Desember 2016.
Kepala BPS Suhariyanto merinci, rupiah terapresiasi 0,74% terhadap Dolar AS pada Desember 2016. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap Dolar AS terjadi pada minggu kedua Desember 2016 yang mencapai Rp13.286,42 per US$.
“Menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Kalimantan Utara yang mencapai Rp13.055 per Dolar AS pada minggu kedua Desember 2016,” ujar Suhariyanto di Jakarta, Senin, 16 Januari 2017. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Kemudian, kata dia, rupiah juga terapresiasi 4,14% terhadap Dolar Australia pada Desember 2016. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap Dolar Australia terjadi pada minggu keempat Desember 2016 yang mencapai Rp9.664,58 per Dolar Australia.
(Baca juga: Surplus Neraca Perdagangan Dorong Sentimen Positif Rupiah)
“Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Kalimantan Utara yang mencapai Rp9.330 per Dolar Australia pada minggu keempat Desember 2016,” ucapnya.
Selanjutnya, pergerakan rupiah terapresiasi 5,06% terhadap Yen Jepang pada Desember 2016. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap Yen Jepang terjadi pada minggu ketiga Desember 2016 yang mencapai Rp113,95 per yen Jepang. (Bersambung ke halaman berikutnya)
“Berdasarkan provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mencapai Rp107,50 per Yen Jepang pada minggu keempat Desember 2016,” paparnya.
Selain itu, tambah dia, pada Desember 2016 rupiah juga terapresiasi 2,38% terhadap Euro. Menurutnya, level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap Euro terjadi pada minggu ketiga Desember 2016 yang mencapai Rp13.994,88 per Euro.
“Level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Papua yang mencapai Rp13.783,75 per Euro pada minggu keempat Desember 2016,” tutupnya. (*)
(Baca juga: Ini Penegasan BI Soal Simbol Uang Rupiah)
Editor: Paulus Yoga




