Poin Penting
- Airlangga menilai inflasi, PMI manufaktur, dan neraca perdagangan menjadi tiga sinyal kuat ekonomi bergerak positif.
- Inflasi Juli 2026 turun menjadi 2,88 persen dan tetap berada dalam sasaran nasional.
- PMI manufaktur kembali ekspansif dan perusahaan mulai menambah tenaga kerja seiring pemulihan pesanan.
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melihat ekonomi Indonesia mulai bergerak lebih positif. Inflasi melandai, manufaktur kembali ekspansif, dan defisit perdagangan menyempit.
Ketiga indikator itu dirilis pada Senin (3/8). Pemerintah menilai kombinasi ketiganya mencerminkan fondasi ekonomi yang tetap solid.
“Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Airlangga di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Selasa (4/8).
Baca juga: Penjualan Mobil Naik 32,9 Persen, Purbaya Sebut Ekonomi RI Masih Tangguh
Airlangga Soroti Inflasi yang Tetap Terkendali
Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88 persen secara tahunan. Angka itu turun dari 3,34 persen pada Juni.
Penurunan inflasi dipicu turunnya harga bawang merah, tomat, telur ayam ras, dan cabai rawit. Produksi yang meningkat membantu menekan harga pangan.
Inflasi inti tetap terjaga di level 2,76 persen. Sementara inflasi administered prices mencapai 3,58 persen.
Pemerintah memperkuat pengendalian inflasi melalui Gerakan Pangan Murah dan SPHP. Distribusi antarwilayah dan cadangan beras juga terus diperkuat.
Menurut Airlangga, dukungan pembiayaan pertanian terus ditingkatkan. Realisasi KUR mencapai Rp198,9 triliun per 28 Juli 2026.
Airlangga Nilai Perdagangan Mulai Membaik
Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif 3,58 miliar dolar AS sepanjang Januari-Juni 2026. Surplus nonmigas mencapai 19,35 miliar dolar AS.
Pada Juni 2026, defisit perdagangan menyempit menjadi 450 juta dolar AS. Sebulan sebelumnya, defisit masih 1,61 miliar dolar AS.
Perbaikan didorong kenaikan surplus nonmigas dan penyempitan defisit migas. Ekspor CPO dan turunannya naik 7,32 persen menjadi 12,27 miliar dolar AS.
Baca juga: Purbaya Pede Ekonomi RI Kuartal II 2026 Bakal Tumbuh Kuat
Sektor industri pengolahan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekspor. Kenaikannya mencapai 6,18 persen.
Impor mesin mekanis naik 17,43 persen. Impor perlengkapan elektrik meningkat 19,63 persen.
Pemerintah menilai kenaikan impor barang modal mencerminkan penguatan produksi dan investasi. Aktivitas industri domestik dinilai mulai membaik.
Airlangga Sebut Manufaktur Kembali Ekspansif
PMI Manufaktur Indonesia naik ke 50,2 pada Juli 2026. Sebulan sebelumnya, indeks berada di 46,9.
Kenaikan PMI didorong pesanan baru dan peningkatan output. Perusahaan juga mulai menambah tenaga kerja.
“Pesanan mulai pulih dan manufaktur domestik menguat,” kata Airlangga.
Baca juga: Airlangga Ungkap Strategi RI Perkuat Dagang dengan China, Dorong Investasi Berkualitas
Optimisme pelaku industri menjadi yang tertinggi sejak Januari 2026. Arah pemulihan sektor manufaktur dinilai mulai terbentuk.
Pemerintah menilai pemulihan akan bergantung pada permintaan dan biaya produksi. Perbaikan rantai pasok juga menjadi faktor penting.
Secara keseluruhan, pemerintah melihat tiga indikator makro memberi sinyal positif bagi ekonomi nasional. Airlangga menegaskan pemerintah akan menjaga daya beli, memperkuat industri, dan mengawal keberlanjutan pemulihan ekonomi. (*)
Editor: Yulian Saputra


