Poin Penting
- IMF, World Bank, dan OECD memproyeksikan ekonomi Indonesia 2026 tetap tumbuh sekitar 5 persen, menandakan kondisi ekonomi masih solid
- Ekonomi kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen, inflasi 3,08 persen, dan perdagangan Januari–Mei surplus USD4,03 miliar
- Pemerintah memberi bea masuk 0 persen untuk LPG dan bahan baku plastik serta memperluas KUR guna mendorong sektor riil.
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons terkait proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini oleh sejumlah lembaga internasional seperti Dana Moneter International (IMF) hingga Bank Dunia (World Bank).
Airlangga mengatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari berbagai lembaga internasional yang masih berada di level 5 persen tersebut, mencerminkan bahwa perekonomian Tanah Air masih relatif aman dan solid.
“Dari berbagai lembaga, baik itu World Bank, IMF, maupun OECD, pertumbuhan ekonomi kita masih dalam range sekitar 5 persen. Jadi relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan solid,” ujar Airlangga dalam konferensi pers, Jumat, 10 Juli 2026.
Baca juga: Ekonom Sarankan Belanja Negara Semester II 2026 Fokus pada Kualitas
Airlangga menjelaskan ekonomi Indonesia di kuartal I 2026 tumbuh solid di level 5,61 persen. Neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif atau Januari-Mei 2026 tercatat surplus USD4,03 miliar, namun alami defisit secara tahunan sebesar USD1,61 miliar.
“Kemarin satu bulan memang negatif karena dari segi impor BBM itu harganya naik. Sedangkan ekspor daripada kelapa sawit, kemudian batu bara, dan juga ferro alloy sebetulnya angkanya relatif sama kemarin sehingga tentu kita akan jaga juga beberapa bulan ke depan,” ungkapnya.
Selain itu, inflasi masih berada di kisaran target 2,5 plus minus 1 persen atau 3,08 persen pada Mei 2026. Pemerintah juga menjalankan sejumlah program stimulus untuk mendorong perekonomian hingga akhir tahun 2026.
Salah satunya adalah memberikan insentif bea masuk 0 persen untuk impor LPG, bahan baku plastik, dan suku cadang pesawat guna menekan biaya produksi serta meningkatkan daya saing industri.
“Pemerintah mendorong beberapa insentif termasuk insentif untuk industri chemicals di mana impor bahan baku plastik akan dinolkan dan PMK-nya sedang dibuat. Demikian pula untuk petrochemical yang kesulitan bahan baku untuk impor LPG juga kita berikan bea masuk nol untuk periode enam bulan ke depan,” tambahnya.
Baca juga: IMF Tetap Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 5 Persen pada 2026
Kemudian, kata Airlangga, pemerintah memperluas program Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga KUR untuk perumahan guna menggerakan sektor riil.
“Dari segi perbankan relatif aman, memang dana pihak ketiga juga di perbankan sudah double digit dan kita melihat kredit juga sudah mulai berjalan, sudah meningkat dibandingkan kuartal yang lalu,” imbuh Airlangga. (*)
Editor: Galih Pratama


