Poin Penting:
- Pemerintah menyiapkan stimulus ekonomi semester II 2026 sebesar Rp26,34 triliun untuk menjaga daya beli dan pertumbuhan ekonomi.
- Airlangga memastikan tambahan belanja stimulus tidak memengaruhi target defisit APBN 2026 maupun postur fiskal yang telah ditetapkan.
- Hingga Mei 2026, defisit APBN tercatat Rp180,4 triliun atau 0,70 persen dari PDB, dengan pendapatan dan belanja negara masih tumbuh positif.
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan tambahan anggaran untuk paket stimulus ekonomi semester II 2026 tidak akan mengganggu target defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini.
Pemerintah menilai ruang fiskal masih cukup untuk mendukung berbagai program yang ditujukan menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat pertumbuhan ekonomi.
Saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (22/6), Airlangga menegaskan kondisi fiskal tetap terkendali meskipun pemerintah mengalokasikan dana stimulus baru. “(Defisit fiskal) aman,” ujar Airlangga, seperti dikutip dari Antara.
Baca juga: Prabowo Kumpulkan Bos-Bos Bank Himbara dan Menko Airlangga di Istana, Ini yang Dibahas
Airlangga Tegaskan Postur Fiskal 2026 Tetap Terjaga
Pemerintah menggelontorkan paket stimulus ekonomi semester II 2026 dengan total nilai Rp26,34 triliun. Program tersebut disiapkan untuk menjaga konsumsi masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di tengah berbagai tantangan global.
Dari total anggaran tersebut, sebesar Rp2,04 triliun dialokasikan untuk insentif sektor transportasi. Sementara itu, program magang dan vokasi memperoleh anggaran Rp6,26 triliun, sedangkan bantuan pangan mendapatkan porsi terbesar senilai Rp18,04 triliun.
Airlangga juga memastikan hingga saat ini belum ada perubahan maupun penyesuaian terhadap postur fiskal 2026 setelah peluncuran paket stimulus tersebut. Dengan demikian, kebijakan tambahan belanja pemerintah masih berada dalam koridor perencanaan APBN yang telah ditetapkan sebelumnya.
Target Defisit APBN Masih di Level 2,68 Persen PDB
Pemerintah menetapkan target defisit APBN 2026 sebesar 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara Rp689,1 triliun. Target tersebut menjadi acuan utama dalam pengelolaan fiskal sepanjang tahun berjalan.
Meski demikian, tekanan eksternal masih menjadi perhatian. Kenaikan harga minyak dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi memengaruhi kinerja fiskal nasional.
Baca juga: Pemerintah Guyur Stimulus Ekonomi Rp26,34 T di Semester II 2026, Ini Rincian Programnya
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan defisit APBN dapat melebar hingga sekitar 2,90 persen terhadap PDB apabila tekanan dari faktor eksternal tersebut berlanjut.
Kinerja APBN Hingga Mei 2026 Masih Terkelola
Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, realisasi APBN hingga Mei 2026 masih menunjukkan kinerja yang relatif terjaga. Defisit anggaran tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap PDB.
Dari sisi pendapatan, negara berhasil menghimpun penerimaan sebesar Rp1.185 triliun atau 37,6 persen dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun. Capaian tersebut tumbuh 19,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari target APBN sebesar Rp3.842,7 triliun. Angka tersebut meningkat 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan perkembangan tersebut, Airlangga menegaskan bahwa tambahan stimulus ekonomi semester II senilai Rp26,34 triliun masih dapat dikelola tanpa mengubah postur fiskal maupun target defisit APBN 2026 yang telah ditetapkan pemerintah. (*)
Editor: Yulian Saputra


