Poin Penting
- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim program B50 diproyeksikan menghemat devisa Rp177 triliun
- Program B50 turut menekan emisi 44 juta ton CO2 dan mendukung pembangunan PLTS 100 GW.
- Di sisi lain, Airlangga menilai fundamental ekonomi tetap kuat dengan pertumbuhan 5,61 persen dan surplus perdagangan USD4,03 miliar.
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim bahwa penerapan program Biodiesel 50 persen (B50) akan menghemat devisa negara Rp177 triliun, karena Indonesia tidak perlu lagi untuk mengimpor solar.
Airlangga mengatakan, program yang baru saja diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto ini mencerminkan Indonesia mampu menciptakan ketahanan di sektor energi dengan mengoptimalkan kelapa sawit.
“B50 itu menunjukkan bahwa Indonesia bisa punya kekuatan sendiri karena dengan B50 solar itu kita tidak impor lagi dan kita menghemat devisa Rp177 triliun dan berkontribusi terhadap net zero emission 44 juta ton CO2,” ujar Airlangga dalam konferensi pers, Jumat, 10 Juli 2026.
Baca juga: Bahlil: B50 Hemat Devisa Negara hingga Rp170 Triliun, RI Tak Lagi Impor Solar
Di sisi lain, Kata Airlangga, Presiden Prabowo juga berencana mendorong pembangunan sejumlah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) berbasis solar guna hilirisasi ekosistem baterai untuk kendaraan listrik maupun baterai storage system.
“Bapak Presiden mendorong dimulainya program 100 gigawatt berbasis solar di mana untuk hilirisasi daripada ekosistem baterai elektrik sudah siap,” ungkapnya.
Fundamental Ekomomi Indonesia
Sementara, Airlangga menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih baik. Tercermin dari ekonomi Indonesia di kuartal I 2026 tumbuh solid di level 5,61 persen.
Neraca Perdagangan RI secara kumulatif atau Januari-Mei 2026 tercatat surplus USD4,03 miliar, namun alami defisit secara tahunan sebesar USD1,61 miliar.
Baca juga: Ekonom: B50 Bisa Perkuat Rupiah dan Neraca Dagang Tanpa Bebani APBN
“Kemarin satu bulan memang negatif karena dari segi impor BBM itu harganya naik. Sedangkan ekspor daripada kelapa sawit, kemudian batu bara, dan juga ferro alloy sebetulnya angkanya relatif sama kemarin sehingga kita akan jaga juga beberapa bulan ke depan,”ungkapnya. (*)
Editor: Galih Pratama


