Poin Penting
- Pemerintah mendorong investasi biofarmasi untuk memperkuat kemandirian industri farmasi nasional.
- Kolaborasi Tempo Scan dan Sino Biopharmaceutical ditargetkan memproduksi obat biologis bernilai tinggi di Indonesia.
- Produksi dalam negeri diharapkan mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan daya saing industri farmasi.
Jakarta – Pemerintah terus memperkuat industri farmasi nasional guna membangun ekosistem kesehatan yang tangguh, inovatif, dan berdaya saing. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mendorong investasi dan kolaborasi strategis dengan mitra global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kemitraan antara pelaku industri nasional dan perusahaan global menjadi langkah penting untuk mempercepat transfer teknologi, pengembangan inovasi, peningkatan kapasitas manufaktur, penguatan rantai pasok, serta pengembangan sumber daya manusia.
“Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap obat-obatan modern dan berkualitas, sekaligus memperkuat kemandirian sektor obat-obatan nasional,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Sabtu, 25 Juli 2026.
Baca juga: Pemerintah Rayu China Garap Data Center RI, Potensi Pasarnya Fantastis
Di sisi lain, terjalinnya kemitraan strategis antara pelaku usaha nasional dan mitra global juga mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap prospek perekonomian Indonesia serta iklim investasi yang semakin kondusif.
“Saya ucapkan selamat, dan keberhasilan PT Tempo Scan mengandeng Sino Bio Farmasi (Sino Biopharmaceutical Group), ini merupakan hal yang luar biasa dan juga ini menunjukkan kepercayaan dunia usaha terhadap prospek perekonomian di Indonesia. Join Venture dengan Chia Tai Tianqing Farmasi (Chia Tai Tianqing Pharmaceutical Group)-CTTQ ini tepat waktu, karena Bapak Presiden selalu mengharapkan kita punya kemandirian di bidang obat-obatan,” imbuhnya.
Bidik Produksi Obat Biologis di Dalam Negeri
Airlangga menjelaskan, kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat pengembangan biofarmasi nasional, khususnya untuk memenuhi kebutuhan obat bagi penanganan kanker, penyakit hati, diabetes, penyakit pernapasan, dan antiinfeksi.
Kemitraan itu juga diarahkan untuk mengembangkan dan memproduksi berbagai produk biologis bernilai tinggi, seperti antibodi monoklonal, biosimilar, protein rekombinan, sitokin, dan insulin biologis yang selama ini belum sepenuhnya tersedia di Indonesia.
Dengan diproduksinya berbagai obat biologis tersebut di dalam negeri, Indonesia diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat kemandirian industri farmasi nasional.
“Dan harapannya, dengan biofarmasi ini, kita punya tambahan kemandirian di bidang obat-obatan yang selama ini bergantung kepada impor, dan tentunya obat-obat yang akan diproduksi ini termasuk obat-obat impor yang relatif mahal,” tegas Airlangga.
Baca juga: Tekan Angka Kasus TBC Nasional, Anggota Holding BUMN Farmasi Lakukan Ini
Kemitraan Perkuat Daya Saing Industri Farmasi
Airlangga menambahkan, kolaborasi joint venture tersebut diharapkan menjadi awal kemitraan jangka panjang yang mencakup transfer teknologi, pertukaran pengetahuan, pengembangan SDM, peningkatan kemampuan manufaktur, serta penguatan rantai pasok industri kesehatan nasional.
Dalam jangka panjang, kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri farmasi Indonesia di pasar global.
Airlangga juga mengapresiasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang telah memperoleh pengakuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai WHO-Listed Authority (WLA). Pengakuan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu regulator obat berstandar internasional.
Secara global, terdapat 41 otoritas regulator dari 39 negara yang masuk dalam daftar WLA. BPOM RI menjadi salah satu dari 10 regulator obat terbaik dunia sekaligus satu-satunya regulator mandiri dari negara berkembang yang berhasil mencapai standar internasional tertinggi.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) akan memperkuat kemandirian produksi obat nasional melalui sinergi kemampuan manufaktur PT Tempo Scan Pacific Tbk dengan pengembangan produk dari Sino Biopharmaceutical Group.
“Tadi Bapak Menko sudah jelaskan bahwa ini akan menambah kemandirian produksi karena manufacturing-nya di Grup Tempo dan produknya dari Grup CTTQ. Kolaborasi ini menjadi contoh kemitraan yang sangat strategis,” imbuh Haryo. (*)
Editor: Yulian Saputra


