Poin Penting
- DANA menilai keberhasilan penggunaan AI harus diukur dari dampaknya terhadap bisnis.
- Sekitar 80-90 persen kode DANA kini dibuat dengan dukungan AI.
- Implementasi agentic AI meningkatkan produktivitas hingga 57 persen sepanjang 2025.
Jakarta – Di tengah masifnya penggunaan artificial intelligence (AI) untuk bekerja atau berkarya saat ini, ternyata penggunaannya tak cukup hanya diuji berdasarkan tren jumlah penggunaan semata. Tetapi, perlu diukur juga berdasarkan tingkat keberhasilan AI terhadap proses kerja dan perubahan yang dihasilkan bagi bisnis.
Isu tersebut mencuat dalam acara AI@Work Lab di IdeaFest 2026, belum lama ini. CEO dan Co-Founder DANA Indonesia, Vince Iswara yang hadir dalam acara itu menegaskan jika adopsi AI bukan sekadar tujuan akhir. Di mana, nilainya baru tercipta saat teknologi yang ada berhasil membantu menyelesaikan persoalan nyata.
“Nilainya baru tercipta ketika teknologi itu membantu memperbaiki kualitas keputusan, dan memberikan hasil yang dapat diukur. Namun, manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan konteks, menjaga kualitas, mengelola risiko, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya,” ujar Vince dalam acara IdeaFest 2026 di Jakarta, Minggu, 6 September 2026.
Baca juga: Salah Transfer Dana, Bisakah BCA Membantu?
80-90 Persen Kode DANA Dibantu AI
Vince lebih lanjut menjelaskan bila sekitar 80 sampai 90 persen kode di DANA saat ini dihasilkan dengan dukungan AI. Meski demikian, peran engineer tidak berhenti pada pemeriksaan kualitas. Engineer tetap bertanggung jawab dalam merumuskan persoalan, merancang arsitektur sistem, melakukan validasi, memastikan keamanan, serta mengambil keputusan atas hasil akhir.
Sepanjang 2025 sendiri, implementasi agentic AI pada sejumlah proses operasional DANA mencatat peningkatan produktivitas hingga 57 persen, peningkatan kepuasan pelanggan sebesar 13 persen, serta percepatan penyelesaian layanan sebesar 10 persen.
Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan organisasi dan talenta dalam mengintegrasikan AI ke proses kerja. Menurutnya, perusahaan perlu memberi ruang untuk mencoba teknologi baru, sekaligus memastikan tata kelola dan penerapannya tetap bertanggung jawab.
“Pendekatan tersebut diterapkan dengan memberikan ruang bagi tim untuk bereksperimen, sembari memastikan setiap penggunaan AI memiliki tujuan, parameter keberhasilan, dan akuntabilitas yang jelas,” imbuhnya.
Baca juga: OJK Minta Industri Jasa Keuangan Ganti Kerugian Konsumen Rp77,26 Miliar
Ia membeberkan, di DANA Indonesia pendekatan ini salah satunya dilakukan lewat penerapan Smart Friction, yaitu penambahan lapisan verifikasi secara terukur pada aktivitas yang memiliki indikasi risiko lebih tinggi.
Lewat kolaborasi lintas sektor bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), langkah tersebut berkontribusi terhadap penurunan aktivitas terindikasi perjudian online di platform hingga 80 persen selama 2025.
Peran Engineer Tetap Penting
Pada kesempatan yang sama, CTO DANA Indonesia, Norman Sasono mengungkapkan, coding tetap menjadi kemampuan penting, tetapi keunggulan kompetitif bergeser ke kemampuan memahami bisnis, memecahkan masalah, merancang arsitektur, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil secara menyeluruh.
“AI dapat membantu menjawab how, tetapi engineer tetap bertanggung jawab atas why, what, dan what could go wrong. Ketika kode semakin mudah dihasilkan, kemampuan memahami konteks, menggunakan penilaian yang tepat, dan akuntabilitas justru menjadi semakin penting,” tekan Norman. (*) Steven Widjaja


