Poin Penting
- AI mengubah lanskap risiko perbankan dan mendorong penguatan ketahanan siber
- Bank dituntut lebih cepat memitigasi celah keamanan di era AI
- AI dan PKA dinilai memperkuat manajemen risiko serta inklusi keuangan.
Jakarta – Perkembangan artificial intelligence (AI) generasi terbaru mulai mengubah lanskap risiko industri perbankan global. Jika sebelumnya ancaman siber didominasi malware, ransomware, dan pencurian data, kini regulator dunia menyoroti kemampuan AI yang mampu mengidentifikasi kerentanan sistem jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Perubahan tersebut menjadi perhatian berbagai regulator keuangan internasional, seperti Financial Stability Board (FSB), Federal Reserve Amerika Serikat, dan Office of the Superintendent of Financial Institutions (OSFI) Kanada.
Bagi industri perbankan, AI tidak lagi dipandang sekadar sebagai teknologi pendukung, melainkan faktor yang mengubah cara risiko dikelola.
Pengamat perbankan, Dr. A. Iskandar Zulkarnain, menilai, perkembangan tersebut harus menjadi momentum bagi perbankan Indonesia untuk memperkuat ketahanan siber sekaligus mentransformasi sistem manajemen risiko.
“Ke depan, daya saing bank tidak hanya ditentukan oleh kualitas layanan digital, tetapi juga oleh kemampuan membangun cyber resilience dan mengelola risiko berbasis AI,” ujar Iskandar Zulkarnain dalam keterangannya, Senin (27/7).
Baca juga: Bos LPS Ungkap Tantangan Terbesar Perbankan di Tengah Pesatnya AI
Menurut Iskandar, AI generasi baru mampu menganalisis ribuan baris kode dalam waktu singkat sehingga proses menemukan kerentanan sistem menjadi jauh lebih cepat. Di satu sisi, kemampuan tersebut membantu memperkuat keamanan. Namun, di sisi lain, AI juga dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk mempercepat eksploitasi celah keamanan.
“Perlombaannya bukan lagi bank melawan peretas, tetapi kecepatan AI menemukan kerentanan dibandingkan kecepatan bank melakukan mitigasi. Ini adalah race against time,” katanya.
Ia menilai perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek keamanan siber, tetapi juga mendorong transformasi manajemen risiko secara menyeluruh. Bank membutuhkan analisis risiko yang lebih cepat, adaptif, dan berbasis data agar mampu mengimbangi dinamika ekonomi digital.
Dalam konteks itulah, menurut Iskandar, keberadaan Penyelenggara Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) menjadi semakin strategis. Melalui pemanfaatan AI dan data alternatif, PKA mampu melengkapi proses penilaian risiko kredit, khususnya bagi segmen underbanked dan unbanked yang selama ini memiliki keterbatasan riwayat kredit formal.
“AI bukan hanya digunakan untuk menghadapi serangan siber, tetapi juga meningkatkan kualitas pengambilan keputusan pembiayaan. Di sinilah PKA menjadi salah satu infrastruktur penting yang mendukung manajemen risiko perbankan sekaligus memperluas inklusi keuangan,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan AI dalam PKA juga harus dibangun di atas tata kelola yang kuat. Model pemeringkatan harus transparan, dapat diaudit (Explainable AI), memiliki integritas data, serta memenuhi standar keamanan siber agar hasil pemeringkatan tetap akurat dan terpercaya.
Baca juga: Teknologi AI Mulai Ubah Cara Investor Ritel Analisis Saham
Menurutnya, sinergi antara bank dan PKA akan semakin penting di tengah meningkatnya ancaman AI-powered fraud, seperti phishing, voice cloning, deepfake, dan berbagai bentuk social engineering. Di saat yang sama, bank juga dituntut memperkuat Business Continuity Plan (BCP), Disaster Recovery Plan (DRP), serta menerapkan kerangka Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) dalam setiap implementasi AI.
Iskandar menambahkan, investasi pada AI, keamanan siber, dan penguatan infrastruktur manajemen risiko tidak lagi dapat dipandang sebagai cost center, melainkan investasi strategis. (*) DW


