Poin Penting
- Pemerintah berencana meluncurkan KUR berbunga maksimal 5 persen melalui Himbara, namun dinilai terlalu rendah dibanding yield SBN 6–6,5 persen
- Risiko kualitas kredit juga meningkat. NPL diperkirakan bisa naik ke kisaran 3–4 persen jika penyaluran tidak dilakukan secara prudent, terutama pada segmen UMKM informal
- Saham bank Himbara sempat menguat harian, namun mayoritas masih melemah secara year to date akibat kekhawatiran tekanan NIM dan kenaikan risiko kredit
Jakarta – Rencana pemerintah meluncurkan kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga maksimal 5 persen melalui Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mulai memantik perhatian pasar. Kebijakan ini disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, dalam pidato peringatan Hari Buruh, 1 Mei 2026.
Pengamat Pasar Modal, Dipo Satria Ramli, menilai suku bunga kredit di level tersebut tergolong sangat rendah jika dikaitkan dengan profil risiko industri perbankan. Pasalnya, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah saat ini masih berada di kisaran 6–6,5 persen.
“Jadi jika bank tidak diberikan kompensasi atau subsidi bunga, maka Net Interest Margin (NIM) perbankan akan turun,” ucap Dipo kepada Infobanknews dikutip, 6 Mei 2026.
Ia mengingatkan, tekanan tidak hanya datang dari sisi margin, tetapi juga kualitas kredit. Risiko kredit macet atau non-performing loan (NPL) berpotensi meningkat ke level 3–4 persen apabila tidak dikelola secara prudent, khususnya pada segmen informal untuk pembiayaan skala kecil dan menengah.
Baca juga: Rencana Bunga KUR 5 Persen, Airlangga: Sedang Dipersiapkan
Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kinerja industri perbankan masih solid. Per Maret 2026, kredit tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp8.659 triliun. Rasio NPL gross tercatat 2,14 persen, dengan NPL net tetap terjaga di level 0,83 persen.
Dari sisi pasar, Dipo melihat investor masih bersikap wait and see terhadap kebijakan yang berpotensi menjadi penugasan pemerintah (government mandate) bagi bank-bank Himbara.
“Bila memang terjadi, saya rasa valuasi perbankan akan turun lagi karena NIM yang berpotensi turun ditambah NPL yang berpotensi naik,” imbuhnya.
Pergerakan Harga Saham Bank Himbara
Sebagai informasi, pada perdagangan kemarin (5/5) saham-saham bank Himbara terpantau menguat sejalan dengan IHSG yang mengalami kenaikan ke posisi 7.057,10 atau menguat sebanyak 1,22 persen dari level 6.971,95.
Namun, jika dilihat sejak awal 2026 hingga Selasa (5/5) saham-saham bank Himbara mayoritas mengalami penurunan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS). Sedangkan, hanya PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) yang menguat sejak awal tahun.
Kemarin, harga saham BBRI terpantau naik 3,62 persen ke posisi Rp3.150. Sedangkan secara year to date saham BBRI melemah 13,93 persen.
Tak hanya BBRI, saham BMRI kemarin juga meningkat 1,58 persen ke level Rp4.490 dan secara ytd merosot 11,96 persen.
Baca juga: OJK Catat Indeks Saham Syariah Terkontraksi 18,71 Persen Year to Date
Untuk harga saham BBNI terpantau naik 2,08 persen ke level Rp3.920 kemarin, tetapi secara ytd melemah sebanyak 10,30 persen.
Selanjutnya, BRIS sebagai salah satu bank syariah yang termasuk dalam bank Himbara juga terpantau menguat 1,68 persen ke posisi Rp1.820, sedangkan secara ytd turun 18,39 persen.
Sementara itu, harga saham BBTN meningkat 0,37 persen ke level Rp1.365 per saham kemarin. Jika ditarik secara ytd menguat 16,17 persen. (*)
Editor: Galih Pratama


