Poin Penting
- Bank Banten membidik aset tumbuh ~20 persen menjadi Rp12 triliun dan laba bersih Rp75 miliar (naik >40 persen yoy dari Rp52,52 miliar).
- NPL ditargetkan turun ke kisaran 3–3,5 persen dari posisi 4,67 persen (gross) di 2025, sudah di bawah ambang batas regulator (<5 persen)
- RKUD jadi motor bisnis: Kerja sama pengelolaan RKUD, termasuk Kabupaten Serang, membuka peluang ekosistem (payroll, kredit ASN, supply chain) dan menjadi kunci ekspansi Bank Banten.
Serang – Di tengah berbagai dinamika yang dihadapi industri perbankan, PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) menyusun rencana bisnis bank (RBB) dengan target cukup agresif di 2026. Perseroan menargetkan aset bisa tumbuh di kisaran 20 persen, atau menjadi Rp12 triliun.
Bank Banten menutup tahun 2025 dengan total aset Rp10,01 triliun, atau tumbuh 32,45 persen secara tahunan ketimbang Rp7,55 triliun di tahun sebelumnya.
Emiten perbankan yang baru saja menandatangani kerja sama pengelolaan rekening kas umum daerah (RKUD) Kabupaten Serang, ini juga membidik laba bersih Rp75 miliar di akhir 2026. Target itu cukup ambisius, mengingat perolehan labanya di tahun lalu sebesar Rp52,52 miliar. Dengan kata lain, laba bank ini ditargetkan bisa tumbuh di atas 40 persen secara tahunan.
Baca juga: Tandatangani Kerja Sama, Pemkab Serang Resmi Pindahkan RKUD ke Bank Banten
“Kalau di RBB kita rencananya Rp75 miliar. Tapi kami berharap Rp75 miliar itu harus tercapai karena saya pikir dengan cara itu kita bisa bergerak lebih maju. Kami berharap di akhir 2026 kita bisa tutup lebih dari target Rp75 miliar,” kata Muhammad Busthami, Direktur Utama Bank Banten, menjawab pertanyaan infobank usai penandatangan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Serang, di Serang, Banten, Kamis, 9 April 2026.
Sementara, rasio kredit bermasalah (NPL) ditargetkan bisa ditekan ke level 3 persen. Tahun lalu, emiten berkode saham BEKS ini berhasil menekan NPL gross ke level 4,67 persen dari 7,53 persen di akhir 2024. Sedangkan NPL nett tercatat di posisi 1,89 persen.
“Ketentuan dari OJK, NPL harus di bawah 5 persen. Alhamdulillah di akhir tahun 2025, rasio NPL Bank Banten sudah di bawah 5 persen. Dan kami berusaha sesuai dengan RBB Bank Banten tahun 2026, di akhir 2026 insya Allah kita punya rasio NPL bisa jauh di bawah itu. Sekurang-kurangnya bisa 3-3,5 persen,” kata Busthami.
Di luar itu, keberhasilan mendapatkan kepercayaan dari pemerintah daerah untuk memindahkan RKUD ke Bank Banten juga menambah optimisme perseroan. Pengelolaan RKUD bukan hanya soal pemindahan rekening Pemda, tapi juga membuka peluang bisnis besar ke ekosistem Pemda. Mulai dari payroll dan kredit ASN, hingga rantai pasok ke lingkungan Pemda.
Bank Banten, dengan dukungan penuh dari Pemprov Banten sebagai pemegang saham pengendali juga terus mengajak daerah-daerah lain di Banten untuk bergabung. Saat ini, perseroan sudah mengelola RKUD empat Pemda, yakni Pemprov Banten, Kabupaten Lebak, Kota Serang, dan Kabupaten Serang.
Baca juga: Ciamik! Laba Bank Banten Rp52,5 Miliar, Melonjak 31,54 Persen di 2025
RKUD menjadi pintu masuk ke bisnis yang lebih besar bagi Bank Banten. Maka, pengelolaan RKUD menjadi “vitamin” untuk memperkuat dan memperbesar kapasitas bisnis Bank Banten.
“Ini salah satu vitamin yang kita nantikan. Tidak ada vitamin lain membawa Bank Banten melesat selain RKUD untuk saat ini. Jadi kita harus fokus bagaimana mengembalikan RKUD daerah-daerah ke Bank Banten,” pesan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Banten Adi Dharma.
Adi juga berpesan agar Bank Banten menjaga kepercayaan daerah yang sudah mempercayakan RKUD. Caranya dengan terus meningkatkan kualitas pelayanan, menjaga likuiditas, dan meningkatkan kapasitas digital. (*) Ari Astriawan










