Poin Penting
- IHSG dibuka menguat 0,61 persen ke level 7.351,99 pada awal perdagangan, melanjutkan tren positif dari penutupan sebelumnya
- Aktivitas pasar cukup aktif dengan 425,80 juta saham diperdagangkan senilai Rp261,80 miliar; mayoritas saham menguat (311), dibandingkan 81 melemah dan 235 stagnan
- Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih berpeluang menguat menguji level 7.350, meski dibayangi sentimen negatif dari penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 10 April 2026 pukul 09.00 WIB kembali dibuka hijau pada level 7.351,99 dari posisi 7.307,58 atau menguat 0,61 persen.
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan pasar saham hari ini, sebanyak 425,80 juta saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 43 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp261,80 miliar.
Kemudian, tercatat terdapat 81 saham terkoreksi, 311 saham menguat dan 235 saham tetap tidak berubah.
Baca juga: IHSG Berpeluang Menguat, Ini Katalis Penggeraknya
Analis Phintraco Sekuritas, sebelumnya memprediksi bahwa IHSG pada hari ini secara teknikal diperkirakan akan bergerak cenderung menguat di level 7.350.
“Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas MA20 dan pembentukan histogram positif MACD masih berlanjut. Sehingga IHSG diperkirakan bergerak cenderung menguat menguji level 7.350,” ucap Manajemen Phintraco dalam risetnya di Jakarta, 10 April 2026.
Diketahui, IHSG berhasil ditutup menguat ke level 7.307,59 atau naik 0,39 persen pada perdagangan kemarin (9/4), setelah sebelumnya sempat bergerak mixed sepanjang perdagangan.
Baca juga: Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi RI 2026 ke 4,7 Persen, Purbaya: Mereka Salah Hitung
Sentimen Proyeksi Ekonomi Indonesia dari Bank Dunia
Analis Phintraco menilai Bank Dunia yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada tahun ini dari sebelumnya 4,8 persen dan lebih rendah dari target pemerintah di APBN 2026 sebesar 5,4 persen akan memengaruhi pasar saham.
Pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi ini disebabkan karena ekonomi Indonesia diproyeksikan terdampak oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan harga energi global.
Penurunan proyeksi ini sejalan dengan tren perlambatan ekonomi secara regional di kawasan Asia Timur dan Pasifik di luar Tiongkok, diproyeksikan mencapai 4,1 persen dari 4,4 persen proyeksi sebelumnya. (*)
Editor: Galih Pratama










