Kesehatan Dompet Pascalebaran: Perang, Defisit, dan Rupiah yang Terseok-seok

Kesehatan Dompet Pascalebaran: Perang, Defisit, dan Rupiah yang Terseok-seok

Oleh Pak De Samin, The Samin Institute

AKHIR-akhir ini, ketika sedang di Kopi Klotok Menoreh, Kulon Progo, Yogyakarta, Pak De Samin sering ditanya teman-teman, “Pak De, ribut-ribut perang Iran dan kabar defisit APBN, kita sebagai orang biasa harus ngapain?”

Pertanyaan itu jujur saja membuat Pak De Samin lega. Artinya, masyarakat kita mulai sadar bahwa urusan geopolitik dan fiskal negara itu bukan hanya omong besar di Senayan, tapi ujung-ujungnya bisa sampai ke dapur kita. Pascalebaran tentu kondisinya berbeda dan akan lebih berat untuk kesehatan kantong.

Pak De Samin memang sudah lama berkecimpung di dunia keuangan. Namun hari ini situasinya sedang tidak biasa. Banyak lembaga riset ekonomi sudah mengingatkan, defisit APBN kita bisa jebol sampai 3,5 persen dari PDB jika harga minyak terbang tinggi akibat konflik. Itu angka yang besar.

Ditambah lagi, rupiah sudah menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Bahkan diperkirakan jika perang berlangsung lama plus defisit APBN melebar, rupiah bisa lunglai sebesar Rp17.600.

Baca juga: Rupiah Dibuka Tembus Rp17.000 per Dolar AS Dipicu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Pak De Samin tidak ingin membuat Anda cemas. Sebaliknya, mari kita hadapi ini dengan kepala dingin. Seperti kata Pak De Samin dulu, dalam ekonomi yang penting bukan hanya soal untung besar, tetapi soal bagaimana kita bisa tidur nyenyak pada malam hari meskipun dunia sedang kacau.

Menurut Pak De Samin, berikut beberapa hal yang bisa dipikirkan dan dilakukan.

Memahami Badai: Ini soal Harga Minyak dan Modal Asing

Sebelum bicara tips, harus paham dulu penyakitnya. Defisit yang melebar bukan karena pemerintah boros jajan, tetapi karena belanja subsidi energi membengkak. Setiap kenaikan harga minyak US$1 per barel, negara harus merogoh kocek tambahan Rp10,3 triliun untuk belanja, sementara penerimaan hanya naik Rp3,5 triliun. Artinya, setiap kenaikan US$1, defisit bertambah Rp6,8 triliun.

Sementara rupiah tertekan karena dua hal: Pertama, harga minyak tinggi membuat dunia lebih suka memegang dolar. Kedua, terjadi capital outflow, di mana investor asing menarik dananya dari obligasi kita karena khawatir defisit membengkak. Jadi ini seperti lingkaran setan.

Bank Indonesia sudah bergerak cepat. Mereka membatasi pembelian dolar tunai dan memperkuat pelaporan devisa. Tetapi untuk kita, yang perlu dilakukan adalah melindungi rumah tangga kita sendiri.

Tip dan Trik ala Samin Institute: Tiga Langkah Menjaga Dapur Tetap Ngebul

1. Jangan Panik, Tapi “Rebalance” Gaya Hidup

Pak De Samin melihat banyak teman-teman muda sekarang hidup dengan gaya “gali lubang tutup lubang” secara finansial. Inilah saatnya berhenti. Inflasi impor akibat rupiah lemah akan membuat harga barang-barang elektronik, bahan baku makanan, hingga mungkin BBM ikut naik.

Yang harus dilakukan: Evaluasi belanja bulanan. Bikin buku catatan pengeluaran—sekarang bisa pakai aplikasi. Pisahkan mana kebutuhan dan mana keinginan. Ini bukan masa untuk berganti HP tiap bulan atau kredit mobil baru dengan skema bunga tinggi. Seperti kata orang bijak, dalam badai, kapal yang baik bukan yang tercepat, tapi yang paling stabil.

2. Perkuat “Benteng” dengan Dana Darurat

Pak De Samin selalu tekankan pentingnya likuiditas. Di masa ketidakpastian seperti ini, jangan tergiur investasi yang katanya untung besar tapi uang kita terkunci. Properti boleh saja, saham boleh saja, tapi pastikan dana darurat untuk 6 bulan ke depan ada di instrumen yang cair—bisa tabungan biasa atau deposito yang bisa dicairkan kapan saja.

Rupiah melemah memang bikin pusing, tapi ini juga mengingatkan kita bahwa menabung dalam dolar tidak selalu aman jika kita berbelanja dan tinggal di Indonesia. Jadi, fokuslah pada stabilitas arus kas rupiah Anda. Jika cicilan Anda mulai terasa berat, segera restrukturisasi ke bank sebelum terlambat. Jangan tunggu sampai tagihan menumpuk.

3. Jika Berinvestasi, Pilih yang Defensif

Pasar saham kita lagi tertekan. IHSG sempat merah dan investor asing keluar. Ini bukan waktunya menjadi spekulan.

  • Untuk pemain saham: Lihatlah sektor-sektor yang tidak tergantung pada harga minyak tinggi atau yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah (misalnya eksportir komoditas).
  • Untuk jangka panjang: Emas tetap menjadi primadona di saat perang. Logam mulia secara historis menjadi lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik.
  • Yang paling penting: Jangan pernah gunakan uang panas atau uang pinjaman untuk berinvestasi di saat volatilitas tinggi.
Baca juga: Jerat Defisit APBN: Menkeu Purbaya, Bunga Utang Menggunung dan Tax Ratio yang Rendah

Tanggung Jawab Siapa?

Pak De Samin harus jujur: beban ini tidak bisa hanya dipikul rakyat kecil.

Pemerintah harus berani membuat keputusan sulit, bukan dengan menaikkan utang seenaknya, tapi dengan melakukan efisiensi.

Kalau ada program yang anggarannya jumbo tapi bukti empiris dampaknya ke rakyat kecil belum jelas, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencapai Rp335 triliun itu, ya lebih baik dialihkan dulu untuk subsidi atau bantalan sosial yang lebih tepat sasaran.

Pak De Samin paham program itu bagus, tapi dalam keadaan darurat seperti sekarang, prioritas adalah menjaga daya beli masyarakat agar tidak jatuh.

Ekonom dari CORE mengingatkan, efisiensi jangan sampai memangkas program esensial yang langsung menyentuh rakyat.

Baca juga: Neraka APBN: Menjerat Diri dengan Utang Demi Proyek MBG

Ekonomi itu seperti ombak. Ada pasang, ada surut. Perang Iran dan gejolak nilai tukar ini adalah ujian bagi ketahanan kita. Jika kita disiplin, sederhana, dan cerdas dalam mengelola keuangan rumah tangga, kita akan selamat.

Ingat, kekuatan ekonomi Indonesia bukan di angka-angka defisit semata, tetapi di kemampuan 280 juta rakyatnya untuk tetap produktif dan tenang di tengah badai.

Nenek moyang Pak De Samin dulu mengajarkan kemandirian. Mari praktikkan lagi mulai dari sekarang.

Selamat Hari Raya Mohon Maaf Lahir dan Batin. Selamat Berhemat, dan Jaga Kesehatan Dompet Anda dari Copet Inflasi! (*)

Related Posts

News Update

Netizen +62