Poin Penting:
- Status Gunung Tambora dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) akibat peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik.
- Data pemantauan menunjukkan lonjakan gempa vulkanik dari 267 kejadian pada Januari menjadi 453 kejadian pada Februari 2026.
- Masyarakat dan wisatawan diminta tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Tambora.
Jakarta – Status Gunung Tambora resmi dinaikkan menjadi Level II (Waspada). Peningkatan status Gunung Tambora tersebut diumumkan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setelah terdeteksi peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik di gunung api yang berada di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Kepala Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Nusa Tenggara, Zakarias Dedu Ghele Raja, mengatakan kenaikan status Gunung Tambora dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) berlaku sejak Selasa pukul 10.00 WITA.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah evaluasi data visual dan instrumental menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kegempaan yang berkaitan dengan dinamika magma di bawah gunung api tersebut.
“Terutama ditunjukkan oleh meningkatnya jumlah kejadian kegempaan yang berasosiasi dengan pergerakan magma dari kedalaman menuju kantong magma di bawah tubuh Gunung Tambora,” katanya via WhatsApp kepada Antara di Dompu, Selasa.
Baca juga: YBSMU dan BSI Bantu Masyarakat Terdampak Kebakaran di Tambora
Aktivitas Gempa Vulkanik Gunung Tambora Meningkat
Data pemantauan menunjukkan aktivitas Gunung Tambora mengalami peningkatan signifikan sejak awal 2026. Pada Januari 2026 tercatat 267 kejadian gempa vulkanik dalam, sementara pada Februari jumlahnya meningkat menjadi 453 kejadian.
Peningkatan aktivitas tersebut mengindikasikan adanya tekanan fluida magmatik yang semakin kuat serta suplai magma dari kedalaman menuju sistem magma yang lebih dangkal di bawah Gunung Tambora.
Aktivitas seismik gunung api ini juga masih cukup intensif selama periode 1 hingga 9 Maret 2026. Dalam kurun waktu tersebut, tercatat sembilan kejadian gempa guguran, 88 gempa vulkanik dalam, 40 gempa tektonik lokal, serta 24 gempa tektonik jauh.
“Dominasi gempa vulkanik dalam menunjukkan proses dinamika magmatik di bawah tubuh gunung api masih berlangsung dan berpotensi memicu peningkatan aktivitas pada periode selanjutnya,” kata Zakarias.
Warga Diminta Tidak Mendekati Area Kawah
Seiring meningkatnya status Gunung Tambora menjadi Level II (Waspada), masyarakat di sekitar gunung serta wisatawan diimbau tidak memasuki area dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
Selain itu, warga dan pengunjung juga tidak diperbolehkan turun ke dasar kaldera maupun mendekati kerucut parasit Doro Afi Toi dan Doro Afi Bou, termasuk lubang-lubang tembusan gas yang berada di dasar kaldera.
Baca juga: Srikandi BNI Salurkan Bantuan ke Korban Kebakaran di Wilayah Tambora
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi bahaya guguran atau longsoran batuan di tebing dan dinding kaldera yang dapat terjadi sewaktu-waktu akibat ketidakstabilan lereng.
Pemerintah daerah serta masyarakat di sekitar Gunung Tambora diharapkan terus memantau perkembangan aktivitas gunung api melalui Pos Pengamatan Gunung Api Tambora di Desa Doro Peti, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, maupun melalui informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. (*)
Editor: Yulian Saputra










