Saham TUGU Melesat sejak Awal Tahun, Ini Deretan Katalisnya!

Saham TUGU Melesat sejak Awal Tahun, Ini Deretan Katalisnya!

Poin Penting

  • Saham TUGU naik 15% sejak awal 2026 ke level Rp1.340, outperform dibandingkan IHSG (-4,1%) dan sektor keuangan (-5,0%).
  • Penguatan ditopang valuasi murah (0,4x PBV), permodalan kuat (RBC 404%), serta lonjakan likuiditas transaksi lebih dari dua kali lipat.
  • Laba 9 bulan 2025 Rp595 miliar dengan potensi laba tembus Rp700 miliar dan estimasi dividend yield sekitar 6,3%.

Jakarta – Saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), anak usaha Pertamina di bidang asuransi umum, menguat signifikan sejak awal 2026. Analis menyoroti sejumlah faktor pemicu penguatan harga saham tersebut. 

Harga saham TUGU ditutup di Rp1.340 per saham pada Rabu, 11 Februari 2026, naik 4,7 persen. Apresiasi tersebut mengantarkan saham TUGU mencatatkan kenaikan 15,0 persen secara penutupan akhir 2025 di Rp1.165 per saham. 

Baca juga: Saham TUGU Rebound Cepat Setelah Koreksi, Intip Pemicunya

Kenaikan harga saham TUGU ini terbilang istimewa karena kontras dengan kondisi pasar saham domestik yang justru sedang tertekan pada awal tahun. Saham TUGU terbukti unggul (outperform) jika dibandingkan dengan kinerja indeks sektoral maupun pasar secara keseluruhan.

Pasalnya, secara year-to-date (ytd) hingga 11 Februari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatatkan koreksi sebesar 4,1 persen, sementara indeks sektor keuangan juga terkoreksi 5,0 persen. Hal ini mengukuhkan posisi TUGU sebagai saham defensif pilihan investor.

Valuasi Murah jadi Daya Tarik

Equity Research Analyst Trimegah Sekuritas, Kharel Devin, menjabarkan setidaknya terdapat tiga katalis positif utama penopang kinerja saham TUGU, yakni kinerja keuangan solid, valuasi murah, hingga aspek permodalan yang kuat.

“Pasar saat lalu sempat dilanda euphoria dengan IHSG tahun lalu catat return 23 persen dan kalau dilihat valuasi saham TUGU masih sangat terdiskon. Kalau IHSG valuasinya 2,6x Price to Book Value/PBV, sektor keuangan 1,6x PBV, TUGU hanya 0,4x PBV. Jadi wajar kalau re-rating” ungkapnya. 

Menurutnya, gap valuasi antara saham TUGU dengan sektor maupun pasar secara keseluruhan yang terlampau jauh membuat saham TUGU menjadi semakin menarik di mata investor. 

Ia juga menuturkan bahwa kinerja pasar saham domestik yang naik signifikan sehingga secara valuasi sudah ke area zona premium membuat investor lebih melirik saham-saham dengan valuasi lebih rasional dan terdiskon sebagai antisipasi jika terjadi koreksi. Hal ini juga yang membuat likuiditas perdagangan saham TUGU melonjak pada awal tahun.

Baca juga: Kesehatan Keuangan TUGU Lampaui Industri, Ini Buktinya!

Sebagai gambaran, rata-rata nilai perdagangan saham TUGU secara harian pada 2025 mencapai Rp3,5 miliar. Namun sepanjang 2026, rata-rata nilai transaksi per harinya tembus Rp8,5 miliar atau melonjak lebih dari 2x.

Permodalan Tebal dan Siap Ekspansi

Menurut Kharel, selain valuasi yang murah, TUGU juga didukung dengan permodalan yang tebal dan kuat. Ekuitas TUGU (parent only) mencapai Rp6,2 triliun sedangkan ekuitas konsolidasi hampir Rp11 triliun. Ditambah lagi rasio solvabilitas TUGU yang tinggi dengan rasio RBC (parent only) 404 persen per Desember 2025. 

“Dengan ekuitas yang tebal dan kuat, TUGU jauh lebih dari siap untuk menghadapi implementasi POJK ketentuan modal minimum industri asuransi yang rencananya tahun ini. Di saat banyak perusahaan asuransi umum lain harus fokus mencari modal tambahan agar memenuhi aturan, TUGU lebih siap untuk ekspansi bisnis” tuturnya.

Baca juga: Tugu Insurance Raih Best Stock Awards 2026, Bukti Fundamental Kokoh dan Kinerja Konsisten

Berdasarkan POJK nomor 23 tahun 2023, perusahaan asuransi baik umum maupun jiwa diwajibkan memiliki ekuitas minimum sebesar Rp250 miliar pada 2026 ini. Di tengah kondisi tersebut masih banyak perusahaan asuransi yang belum memenuhi ketentuan.

Potensi Laba dan Dividen Tetap Atraktif

Dari sisi kinerja, TUGU diekspektasikan tetap mencatatkan performa solid pada 2025 meskipun telah menerapkan standar akuntansi baru (PSAK 117) yang mengharuskan penyajian kembali (restatement) laporan 2024.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian non-audit per September 2025, TUGU membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp595 miliar (hasil penerapan PSAK 117).

Mengingat ada PSAK baru dan restatement maka laba terlihat turun. Namun menurut Kharel, sebenarnya jika ekspektasi investor adalah dividen seharusnya kemampuan TUGU membayar dividen baik secara nominal maupun yield masih sangat atraktif. 

“9 bulan laba sudah Rp595 miliar, ini sudah 85 persen dari laba full year 2024. Ada harapan laba TUGU di 2025 bisa tembus Rp700 miliar dan jika payout ratio tetap 40 persen maka potensi yield saat ini di 6,3 persen. Ini masih sangat atraktif meski harga sahamnya sudah naik,” pungkas Kharel. (*)

Related Posts

News Update

Netizen +62