IHSG dan Kurs Rupiah Tumbang: Paradoks Pertumbuhan Ekonomi

IHSG dan Kurs Rupiah Tumbang: Paradoks Pertumbuhan Ekonomi

Oleh Rahma Gafmi, Guru Besar Universitas Airlangga

PELEMAHAN nilai tukar rupiah terjadi secara berkelanjutan sejak awal perdagangan pada 5 Februari 2026, yang tecermin dari depresiasi rupiah hingga menyentuh Rp16.830 per dolar AS atau menyusut 0,21 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan pasar yang konsisten, bukan sekadar fluktuasi sesaat.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan tersebut adalah persepsi pelaku pasar yang tidak seragam terhadap data pertumbuhan ekonomi, sehingga sebagian investor cenderung bersikap lebih berhati-hati dan mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi rupiah.

Selain faktor domestik, penguatan dolar AS menjadi sumber tekanan eksternal yang signifikan. Kenaikan indeks dolar AS mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai aset aman (safe haven), yang berdampak pada pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Hal itu terlihat dari depresiasi yang dialami oleh baht Tailan 0,54 persen dan ringgit Malaysia 0,37persen. Meskipun demikian, tidak semua mata uang Asia bergerak searah. Peso Filipina, misalnya, menguat 0,44 persen dan rupee India terapresiasi 0,10 persen. Ini mengindikasikan bahwa faktor fundamental domestik dan sentimen spesifik masing-masing negara tetap berperan dalam menentukan arah pergerakan nilai tukar, di tengah dominasi sentimen global.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11persen sepanjang 2025 sebagaimana dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dan diakui oleh para pemangku kebijakan. Ini tergolong cukup baik dan relatif tangguh, mengingat kondisi perekonomian global sedang bergejolak. Kalau dibandingkan dengan mitra dagang utama Indonesia, yang mengalami perlambatan pertumbuhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia seolah yang terbaik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sejalan atau sedikit lebih baik daripada Tiongkok yang sebesar 5 persen, atau Malaysia 4,9 persen, Filipina 4,4 persen, dan Singapura 4,8 persen. Korea Selatan malah hanya tumbuh 1 persen. Namun, masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan Vietnam yang berhasil mencapai pertumbuhan sangat tinggi, 8 persen.

Walaupun angka pertumbuhan relatif stabil pada angka 5 persen, hal itu belum sepenuhnya diikuti oleh kepercayaan investor yang kuat. Apalagi Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari “stabil” menjadi “negatif”. Istilahnya, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Krisis kepercayaan pun terjadi.

Hal ini menunjukkan bahwa fondasi pendorong pertumbuhan ekonomi domestik (growth engines) seperti investasi, industrialisasi, dan daya saing, belum cukup kokoh, sehingga persepsi investor terhadap keberlanjutan dan kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cenderung rapuh, terutama di tengah ketidakpastian global.

Tekanan terhadap pasar keuangan domestik Indonesia bersifat struktural dan berkelanjutan. Tecermin dari arus keluar modal asing (capital outflow) yang cukup signifikan, baik di pasar surat utang maupun pasar saham, dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Besarnya arus keluar ini menunjukkan bahwa investor asing cenderung mengurangi eksposur terhadap aset keuangan Indonesia, yang dapat mencerminkan meningkatnya persepsi risiko atau menurunnya daya tarik imbal hasil relatif.Top of Form

Kondisi tersebut juga tecermin secara jangka pendek melalui arus keluar harian dari pasar saham sebesar USD85,4 juta, yang beriringan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 0,53 persen ke level 8.301. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan jual masih berlangsung dan sentimen pasar cenderung negatif, sehingga pasar saham bergerak lesu.

Kepercayaan investor merupakan faktor kunci bagi negara yang memiliki ketergantungan tinggi pada pembiayaan eksternal. Ketika kepercayaan tersebut melemah, arus modal asing menjadi lebih volatil dan rentan keluar.

Pelaku pasar tampaknya kurang meyakini keberlanjutan strategi pertumbuhan ekonomi yang dilakukan pemerintah Indonesia, yang terlalu bertumpu pada belanja fiskal melalui program-program populis. Pendekatan tersebut dinilai berisiko terhadap stabilitas fiskal jangka menengah dan kurang menciptakan sumber pertumbuhan yang produktif serta berkelanjutan.

Angka pertumbuhan tersebut meragukan publik. Belum cukup kuat untuk menopang sentimen pasar keuangan, khususnya pasar saham dan nilai tukar. Hal ini mengindikasikan adanya ketidaksinkronan antara kinerja ekonomi riil dan respons pasar keuangan.

Kesimpulan

Anjloknya IHSG dan melemahnya kurs rupiah mencerminkan bahwa pelaku pasar tidak hanya menilai tingkat pertumbuhan, tetapi juga kualitas dan sumber pertumbuhan tersebut. Ketika pertumbuhan dinilai masih bertumpu pada belanja fiskal dan konsumsi, sementara investasi dan ekspor belum menjadi mesin utama, investor cenderung meragukan keberlanjutan pertumbuhan jangka menengah.

Keraguan tersebut diperkuat oleh tekanan eksternal, terutama penguatan dolar AS dan volatilitas global, yang mendorong arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,11 persen lebih merefleksikan resiliensi jangka pendek perekonomian. Belum sepenuhnya mampu membangun kepercayaan pasar keuangan. Kondisi ini menegaskan bahwa stabilitas IHSG dan nilai tukar tidak semata ditentukan oleh besaran pertumbuhan ekonomi, melainkan oleh struktur pertumbuhan, kredibilitas kebijakan, dan persepsi risiko makroekonomi secara keseluruhan.Top of FormBottom of Form

Penguatan dolar AS dan ketidakpastian global memperbesar tekanan eksternal, namun respons pasar yang cenderung negatif juga mencerminkan kekhawatiran terhadap kualitas dan keberlanjutan sumber pertumbuhan domestik, khususnya ketika pertumbuhan dinilai masih sangat bergantung pada ekspansi belanja fiskal dan program populis, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

Kondisi ini menempatkan perekonomian Indonesia pada posisi yang rentan, mengingat tingginya kebutuhan terhadap arus modal asing untuk menjaga stabilitas sektor keuangan dan pembiayaan defisit.

Related Posts

News Update

Netizen +62