Pertamina Bentuk Sub Holding Downstream, Dinilai Perkuat Optimalisasi Operasional Hilir

Pertamina Bentuk Sub Holding Downstream, Dinilai Perkuat Optimalisasi Operasional Hilir

Poin Penting

  • Pertamina resmi membentuk Sub Holding Downstream (SHD) untuk mengintegrasikan Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional, dan Pertamina International Shipping.
  • Integrasi hilir migas dinilai meningkatkan efisiensi dan kecepatan distribusi BBM dan elpiji melalui penyederhanaan proses dan koordinasi satu atap.
  • SHD diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional, terutama dalam menghadapi lonjakan kebutuhan pada Ramadhan dan Idulfitri 2026.

Jakarta — PT Pertamina (Persero) resmi membentuk Sub Holding Downstream (SHD) untuk mengintegrasikan seluruh aktivitas hilir migas yang selama ini dijalankan oleh PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional, dan PT Pertamina International Shipping.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai, pembentukan SHD ini berpotensi meningkatkan optimalisasi operasional sektor hilir migas. 

Integrasi tersebut diharapkan dapat memperkuat peran Pertamina dalam menjamin pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji, sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.

“Diharapkan memang optimalisasi operasional, karena integrasi akan membuat saling mendukung. Jadi, kalau satu rumah kan ibaratnya ketika ada pekerjaan, bisa dikerjakan bareng. Jadi lebih sederhana prosesnya,” ujar Komaidi, Sabtu, 7 Februari 2026.

Ia menuturkan, penyederhanaan proses akan berdampak langsung pada kecepatan pengadaan dan distribusi BBM maupun elpiji. Hal ini dinilai krusial untuk menjaga kelancaran pasokan energi kepada masyarakat.

Baca juga: Pakar Apresiasi Peran Pertamina Capai Target Lifting Minyak APBN 2025

Komaidi mencontohkan, dalam kondisi tertentu ketika Pertamina Patra Niaga perlu berkoordinasi dengan Kilang Pertamina Internasional terkait kualitas BBM, atau dengan Pertamina International Shipping untuk pengangkutan minyak, proses dapat dilakukan lebih cepat karena berada dalam satu struktur organisasi.

”Misalkan PPN membutuhkan minyak dari Arab dan harus segera sampai dalam hitungan waktu tertentu. Maka, PPN tinggal memerintahkan atau berkomunikasi saja dengan kapal (PIS), karena satu atap. Jadi lebih sederhana,” jelasnya.

Hal serupa berlaku ketika terjadi indikasi potensi kelangkaan BBM di suatu wilayah. Sub Holding Downstream dapat langsung memetakan pasokan dari kilang mana yang akan digunakan serta menyiapkan pengangkutannya secara lebih cepat.

Baca juga: Harga BBM di Pertamina, Shell, BP, Vivo Kompak Turun per 1 Januari 2026, Ini Rinciannya

“Tidak perlu lagi Patra mengontak KPI terlebih dahulu, lalu KPI membeli minyaknya. Secara teknis mungkin sama, tetapi administrasinya jauh lebih sederhana,” kata Komaidi.

Ia menilai, integrasi ini akan membuat Pertamina lebih responsif dan adaptif, terutama dalam menghadapi periode dengan lonjakan kebutuhan energi, seperti saat Ramadhan dan Idulfitri 2026.

“Dengan integrasi, seharusnya kinerjanya lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Apalagi selama ini Satgas Ramadhan dan Idulfitri Pertamina selalu berjalan baik dan mendapatkan apresiasi dari konsumen,” ujarnya.

Pertamina secara resmi membentuk Sub Holding Downstream pada 1 Februari 2026. Aksi korporasi ini dilakukan melalui proses evaluasi mendalam, termasuk benchmarking dengan perusahaan minyak dan gas sejenis di tingkat global.

Pembentukan Sub Holding Downstream bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan optimalisasi operasional hilir, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, serta meningkatkan daya saing perusahaan. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62