Poin Penting
- Amartha optimistis pembiayaan UMKM, khususnya segmen ultra mikro, tetap tumbuh karena kebutuhan modal kerja bersifat stabil dan menjadi penopang utama ekonomi keluarga.
- Dari proyeksi 70 juta UMKM pada 2025, Amartha baru menjangkau sekitar 3 juta mitra, membuka peluang ekspansi yang luas dengan dukungan 10 ribu tenaga lapangan.
- Sepanjang 2025, penyaluran pembiayaan mencapai Rp13,2 triliun (tumbuh 20 persen yoy) dengan TWP90 sekitar 4%, serta total akumulasi pembiayaan Rp37 triliun sejak berdiri.
Jakarta – Di tengah tekanan pelemahan daya beli dan permintaan kredit yang belum sepenuhnya pulih, PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) tetap memandang prospek pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada 2026 berada di jalur positif.
Chief Funding Officer Amartha Financial, Julie Fauzie, menilai karakteristik pelaku UMKM, khususnya di segmen ultra mikro, membuat kebutuhan pembiayaan relatif stabil dari tahun ke tahun. Kebutuhan modal kerja dinilai menjadi faktor utama yang menjaga permintaan tetap bergeliat.
“Prospek pembiayaan dari tahun ke tahun adalah selalu sama. Kenapa? Karena memang modal kerja yang digunakan ini adalah untuk menghidupi keluarga. Jadi survival-nya itu berbeda sama dengan orang kota. Kalau orang di desa kalau dia tidak dagang, itu ya tidak hidup,” jelas Julie pada Jumat, 6 Februari 2026.
Baca juga: Amartha Prosper Jadi Alternatif Investasi, Tawarkan Imbal Hasil hingga 14 Persen
Pada 2025, jumlah pelaku UMKM diproyeksikan mencapai 70 juta. Besarnya populasi tersebut menjadi ruang ekspansi yang masih terbuka lebar bagi Amartha untuk memperluas penyaluran pembiayaan ke sektor produktif.
“Kami itu kan menyasar (pelaku) ultra mikro. Jadi kita baru punya sekitar 3 juta (mitra UMKM), berarti potensinya masih sangat-sangat besar. Jangkauan kita itu belum ke semua,” tambah Julie.
Untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan, Amartha mengandalkan sekitar 10 ribu karyawan lapangan yang aktif menjangkau calon nasabah baru, termasuk perempuan pelaku UMKM di berbagai daerah. Pendekatan langsung ini dinilai memperkuat proses akuisisi sekaligus mitigasi risiko.
Baca juga: Pangsa Kredit UMKM Terus Menyusut, Program Pemerintah Jadi Peluang Tumbuh
Basis data yang terbangun dari aktivitas tersebut memungkinkan Amartha memahami profil risiko calon nasabah secara lebih komprehensif. Hal ini turut meningkatkan kepercayaan lender institusi, termasuk perbankan, untuk menyalurkan pendanaan melalui skema kerja sama.
“Ini segmen yang nggak bisa disasar oleh bank, karena dianggap unbankable. Malah, bank taruh dana di kami. Jadi, kami punya banyak bank partner yang menyalurkan melalui skema channeling dengan Amartha. Dengan begitu mereka bisa menjangkau jauh lebih banyak,” tutupnya.
Untuk diketahui, sepanjang 2025 Amartha mampu menyalurkan pendanaan Rp13,2 triliun, tumbuh 20 persen secara tahunan. Sementara, tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) terjaga di sekitar 4 persen.
Dengan demikian, Amartha sukses memberi pembiayaan sebesar Rp37 triliun, terhitung sejak kali pertama berdiri pada 2010. Adapun portofolio Amartha sendiri mayoritas merupakan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). (*) Mohammad Adrianto Sukarso










