Poin Penting
- WHO mencatat 74 persen kematian global disebabkan penyakit tidak menular, dengan 17 juta orang meninggal sebelum usia 70 tahun
- Konsumsi tembakau, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan alkohol meningkatkan risiko penyakit serius
- Data AFI menunjukkan klaim penyakit kritis terbesar berasal dari kanker payudara, kanker paru, jantung iskemik kronis, dan kanker usus.
Jakarta – Banyak orang masih percaya bahwa penyakit kritis hanya untuk usia lanjut. Selama tubuh terasa kuat dan aktivitas berjalan normal, risiko kesehatan sering dianggap sebagai kekhawatiran “nanti saja”. Padahal, tren global menunjukan cerita berbeda yang mana penyakit kritis kini juga sering terjadi pada usia produktif.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 16 September 2025 mencatat bahwa penyakit tidak menular menyebabkan 74 persen dari seluruh kematian di dunia, dan yang lebih menghawatirkan, 17 juta orang meninggal setiap tahunnya sebelum memasuki usia 70 Tahun. Kondisi ini menegaskan bahwa penyakit kritis tidak lagi identik dengan usia.
Gaya hidup menjadi salah satu faktor pendorong utama. WHO menyebutkan konsumsi tembakau, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan penggunaan alkohol berkontribusi besar terhadap meningkatnya risiko penyakit jantung, kanker diabetes, serta penyakit pernapasan kronis.
Baca juga: Sibuk Kerja dan Kejar Deadline?
Di Indonesia, situasinya tidak jauh berbeda. Data Globocan 2022 yang dirilis oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) pada 8 Februari 2024 menunjukan terdapat lebih dari 408 ribu kasus kanker baru setiap tahun, dengan kanker payudara sebagai jenis kanker paling banyak dialami perempuan Indonesia.
Secara global, tingkat kelangsungan hidup (five-year- survival rate) menurut WHO September 2022, kanker payudara dapat mencapai sekitar 90 persen bila terdeteksi dini, menegaskan pentingnya kesadaran serta upaya pencegahan sejak awal.
Gambaran risiko tersebut juga tercermin dalam data internal PT AXA Financial Indonesia (AFI) per tanggal 31 Desember 2025. Klaim dengan biaya perawatan terbesar yang diajukan terkait penyakit kritis adalah Kanker Payudara, Kanker Paru-paru, Penyakit Jantung Iskemik Kronis dan Kanker Usus. Biaya pengobatan pada penyakit kritis tersebut berkisar mulai Rp30 Juta hingga ratusan juta.
Adapun penyakit kritis dengan frekuensi kasus tertinggi di AFI adalah Gagal Ginjal dan Kanker Payudara, dengan biaya pengobatan menyentuh Rp55 Juta. Situasi tersebut menunjukan bahwa risiko penyakit serius dapat datang dari berbagai faktor, mulai dari gaya hidup hingga keterlambatan deteksi medis.
Sebagai respons terhadap tingginya risiko tersebut, AFI telah mengadakan inisiatif Breast Cancer Prevention Campaign di Jakarta dan Surabaya pada 2025 lalu. Program ini bertujuan untuk mencegah tingginya risiko dan meningkatkan kesadaran akan deteksi dini penyakit kanker payudara di Indonesia, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih proaktif dalam menjaga kesehatan melalui edukasi dan pemeriksaan dini.
Baca juga: AXA Financial Indonesia Resmikan Kantor Pemasaran Terbaru di Medan
Langkah Preventif Menghadapi Risiko Penyakit Kritis
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko antara lain:
- Melakukan medical Check-Up secara berkala agar potensi penyakit terdeteksi lebih awal.
- Menerapkan pola hidup sehat melalui aktivitas fisik dan konsumsi gizi seimbang.
- Menghindari kebiasaan berisiko seperti merokok serta mengelola stress dengan baik.
- Memiliki perlindungan finansial melalui asuransi penyakit kritis untuk membantu menjaga stabilitas finansial saat risiko kesehatan terjadi.
Ketika penyakit tidak lagi soal usia, kesiapan adalah perlindungan terbaik. Saat terdiagnosis penyakit kritis tidak hanya akan mempengaruhi risiko kesehatan fisik tetapi juga berisiko akan mempengaruhi kesehatan finansial.
Sudah siapkah kamu dengan risiko yang akan terjadi saat kamu terdiagnosis penyakit kritis?
Siapkan perlindungan AXA Critical Protector dari AXA Financial Indonesia untuk menjadikan kesiapan finansial semakin kuat saat risiko terjadi. (*)










