BTN Targetkan Pembiayaan 20.000 Rumah Rendah Emisi pada 2026

BTN Targetkan Pembiayaan 20.000 Rumah Rendah Emisi pada 2026

Poin Penting

  • BTN menargetkan pembiayaan 20.000 rumah rendah emisi pada 2026, setelah menyalurkan 11.000 unit sepanjang 2025.
  • Program Rumah Rendah Emisi BTN ditopang pengembang dan startup daur ulang plastik.
  • BTN membidik 150.000 rumah rendah emisi dalam jangka panjang sebagai bagian dari strategi bisnis dan pengurangan emisi karbon.

Bekasi — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membidik pembiayaan 20.000 unit rumah rendah emisi sepanjang 2026. Target ini ditetapkan untuk mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang sekaligus berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon penyebab perubahan iklim.

Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo mengatakan, pihaknya telah menyalurkan pembiayaan pembangunan sekitar 11.000 unit rumah rendah emisi sepanjang 2025.

Hunian tersebut dikembangkan oleh sejumlah pengembang di berbagai wilayah, seperti Legok (Banten), Cileungsi (Kabupaten Bogor), Medan, Semarang, Cirebon, dan Bekasi.

“Tahun ini kita targetkan 20.000 rumah rendah emisi, kalau bisa 30.000,” ujarnya di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.

Baca juga: BTN Dukung Program Gentengisasi Prabowo, Fokus Pembiayaan Renovasi dan Sanitasi

Bahkan, dalam jangka panjang, BTN Menargetkan sekitar 150.000 unit rumah rendah emisi. Jumlah tersebut ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 20.000 unit pada 2030.

Program Diluncurkan Sejak 2024

Setiyo menjelaskan, BTN pertama kali meluncurkan Program Rumah Rendah Emisi pada kuartal IV-2024 dengan menggandeng sejumlah pengembang.

Pada tahap awal, BTN menargetkan pembangunan 1.000 unit rumah rendah emisi dalam tiga bulan, dan target tersebut berhasil direalisasikan.

Baca juga: OJK Dorong KUB BPD Tingkatkan Kredit UMKM dan Ekonomi Daerah

Program yang telah berjalan selama dua tahun tersebut juga didukung oleh berbagai startup penyedia material bangunan ramah lingkungan berbahan dasar sampah plastik.

Libatkan Startup Daur Ulang Sampah Plastik

Sejumlah startup yang terlibat antara lain Rebricks, Plustik, dan Green Brick. Startup tersebut mengolah sampah plastik rumah tangga, seperti bungkus mi instan serta saset sabun dan sampo, menjadi material bangunan untuk lantai, paving, dan dinding, sehingga berkontribusi dalam pengurangan sampah dan polusi lingkungan.

“Setiap produsen punya produk yang berbeda-beda dan saling melengkapi. Dengan rumah rendah emisi ini, kita justru menciptakan startup-startup baru di bidang daur ulang plastik. Kami mencari pengusaha di setiap pulau karena bisnis ini inklusif. Saat ini baru 11.000 unit, kalau mau mencapai jutaan tentu perlu dukungan lebih banyak startup,” pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62