Poin Penting
- Perusahaan didorong merombak arsitektur data center agar lebih cepat, simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis di tengah kompleksitas
- Solusi dari Dell Technologies ini diklaim menyederhanakan operasional, menekan biaya kepemilikan, serta menghadirkan storage modern berbasis all-flash dan disaggregated infrastructure
- Disaggregated infrastructure memungkinkan skala sumber daya yang fleksibel, mengurangi vendor lock-in, serta menekan biaya hingga 32 persen dibanding hyperconverged
Jakarta – Di era digital, pengelolaan data center menjadi krusial bagi perusahaan. Tanpa solusi tepat, pengelolaan data center bisa jadi sangat kompleks dan membutuhkan biaya besar.
Maka itu, perusahaan didorong untuk mengatur ulang arsitektur data center-nya agar menjadi lebih cepat, simpel, fleksibel, efisien, aman, dan otomatis.
Jeffry Tjiung Sendjaja, Division Head Server and Storage PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) menyarankan kombinasi dua solusi dari Dell Terchnologies, yakni Dell PowerStorage dan Dell Private Cloud untuk menjawab persoalan tersebut.
Dalam seminar “Built a Private Cloud That Works for You” yang digelar MLPT beberapa waktu lalu, Jeffry mengatakan, perpaduan dua solusi itu diklaim mampu menjadi fondasi infrastruktur penyimpanan modern yang lebih sederhana dalam pengoperasiannya.
Baca juga: Sektor Manufaktur Jadi Penopang Ekonomi RI, Taiwan Tawarkan Teknologi Industri 4.0
“Solusi ini menggabungkan penyimpanan all-flash storage generasi terbaru dengan disaggregated infrastructure yang menyederhanakan operasional sekaligus menekan biaya kepemilikan,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Rabu, 4 Februari 2026.
Ia memaparkan, sebagai platform all-flash storage, Dell PowerStore dirancang menggunakan pendekatan future-proof dengan kemampuan scale-up dan scale-out yang fleksibel. PowerStore mendukung arsitektur end-to-end NVMe, dual active/active nodes, dan desain modular.
Solusi ini disebut lebih efisien karena menawarkan jaminan pengurangan data 5:1 lewat kombinasi deduplikasi dan kompresi secara otomatis tanpa perlu konfigurasi kompleks. Dalam kondisi tertentu, rasio efisiensi bahkan bisa mencapai 20:1. Ini akan membantu menekan biaya penyimpanan sekaligus meningkatkan pemanfaatan kapasitas.
Dari sisi operasional, Dell PowerStore didukung kemampuan self-optimizing dan dukungan Dell AIOps serta automasi end-to-end terintegrasi dengan ekosistem Dell.
“Keunggulan lain terletak pada keamanan data. Dengan fitur multiparty authorization, solusi ini membuat setiap tindakan kritis dapat dikendalikan melalui persetujuan multi-pengguna demi mencegah perubahan yang tidak sah,” lanjut Jeffry.
Adapun Dell Private Cloud dibangun di atas Dell Automation Platform untuk menghadirkan pengalaman private cloud yang konsisten, baik di lingkungan on-premises maupun berbasis Software-as-a-Service (SaaS).
Solusi ini menyediakan portal terpusat untuk onboarding, orkestrasi, manajemen aset, hingga lifecycle management. Jadi, operasional infrastruktur bisa dijalankan secara terstandar dan otomatis.
Adrian Kustiawan, Presales Server x86 Head Multipolar Technology, menambahkan, berbeda dengan pendekatan hyperconverged tradisional, Dell Private Cloud mengusung disaggregated infrastructure, yang membuat skala komputasi, penyimpanan, dan jaringan dilakukan secara independen, sehingga lebih fleksibel, tanpa vendor lock-in, dan memastikan pengoptimalan sumber daya sesuai beban kerja (workload).
Baca juga: Waspada! Visa Ungkap Penipuan Digital Berbasis AI Makin Masif
Dari sisi biaya, data internal Dell menyebut disaggregated infrastructure mampu menekan biaya hingga 32 persen dibanding infrastruktur hyperconverged berkat kebutuhan server yang lebih sedikit, lisensi perangkat lunak yang lebih efisien, serta tingkat utilisasi storage dan komputasi yang lebih tinggi.
“Ini menjadikan Dell Private Cloud pilihan strategis untuk memodernisasi data center dan implementasi AI perusahaan,” pungkas Adrian. (*) Ari Astriawan










