Kadin Ungkap Peran Strategis Elektrifikasi bagi Masa Depan Ekonomi RI

Kadin Ungkap Peran Strategis Elektrifikasi bagi Masa Depan Ekonomi RI

Poin Penting

  • Elektrifikasi jadi kunci ekonomi RI, mendorong pertumbuhan, inovasi industri, dan kesejahteraan.
  • Akses listrik hampir merata, namun ribuan desa masih belum menikmati layanan andal.
  • Energi terbarukan dan peran swasta jadi fokus utama pengembangan ke depan.

Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menegaskan elektrifikasi sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi, inovasi industri, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menilai besarnya populasi Indonesia yang mencapai sekitar 285 juta jiwa, didominasi usia muda, serta pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen selama tiga dekade terakhir, membuat elektrifikasi menjadi elemen krusial dalam pembangunan nasional.

“Bagi Indonesia, elektrifikasi benar-benar menjadi kunci bagi pertumbuhan, inovasi industri, dan juga kesejahteraan masyarakat,” ujar Anin, dalam keterangannya, Jumat, 23 Januari 2026.

Saat ini, kata dia, kapasitas listrik terpasang di Indonesia telah mencapai sekitar 100 gigawatt dengan tingkat konektivitas jaringan listrik sebesar 99 persen yang mencakup 17.000 pulau.

Meski demikian, tantangan masih tersisa. Sekitar 1 persen wilayah atau sekitar 10.000 desa dengan satu juta rumah tangga belum sepenuhnya menikmati akses listrik yang andal.

“Kendala (penyediaan) jaringan menjadi isu krusial, seiring upaya Indonesia untuk meningkatkan kapasitas listrik sekaligus memastikan kualitas layanan bagi masyarakat,” jelasnya.

Baca juga: Di Hadapan OECD, Kadin Tegaskan Komitmen Dukung Pertumbuhan Berkelanjutan

Di balik tantangan tersebut, Anin melihat peluang besar. Indonesia memiliki keunggulan strategis dari sisi demografi serta kekayaan sumber daya alam. Indonesia tercatat sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, serta memiliki cadangan tembaga dan silika yang signifikan.

“Hal ini mendukung agenda hilirisasi industri dan upaya menjaga keterjangkauan energi, mengingat meski menjadi (negara) ekonomi ke-16 terbesar dunia, pendapatan per kapita Indonesia masih berada di kisaran 5.000 dolar AS,” ujarnya.

Anin menegaskan pentingnya kolaborasi internasional, khususnya dalam penguasaan teknologi dan pengembangan talenta.

“Indonesia adalah negara non-blok dan non-aligned (tidak berpihak), sehingga kami dapat bekerja sama dengan berbagai pihak. Namun kolaborasi tersebut harus saling menguntungkan dan tidak menimbulkan ketergantungan,” ujar Anin.

Keberlanjutan Program Pemerintah

Sejalan dengan itu, Anin juga menyoroti konsistensi kebijakan pemerintah sebagai faktor kunci keberhasilan elektrifikasi. Melalui PT PLN (Persero), pemerintah menargetkan penambahan 75 gigawatt kapasitas listrik dalam 15 tahun ke depan, dengan 75 persen berasal dari energi terbarukan.

Baca juga: Begini Dukungan Pasokan Listrik PLN untuk Gelaran Indonesia-Africa Forum di Bali

Menurut Anin, hal ini menarik mengingat Indonesia juga masih menjadi produsen energi fosil, seperti batu bara serta minyak dan gas.

“Dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, pendekatan elektrifikasi konvensional dinilai tidak selalu efektif. Oleh karena itu, pemanfaatan energi surya dan angin, khususnya di wilayah timur Indonesia, menjadi solusi yang semakin relevan,” ujarnya.

Peran Swasta dan Elektrifikasi Transportasi

Anin juga menegaskan pentingnya kemitraan yang kuat dan terstruktur antara pemerintah dan sektor swasta, mengingat sekitar 65 persen dari ekonomi Indonesia, senilai 1,5 triliun dolar AS, digerakkan oleh sektor swasta.

Selain dari sisi pasokan, Anin menekankan, penggunaan teknologi listrik juga perlu didorong, terutama di sektor transportasi, industri, dan digitalisasi. Elektrifikasi transportasi publik seperti bus dan truk dinilai efektif untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik.

Saat ini, kata Anin, sekitar 14 persen kendaraan baru di Indonesia telah menggunakan teknologi listrik dan diproyeksikan terus meningkat. Indonesia pun menargetkan menjadi bagian penting dari rantai pasok global kendaraan listrik, baik untuk pasar Timur maupun Barat, dengan Eropa sebagai mitra strategis.

“Bagi 285 juta rakyat Indonesia, elektrifikasi bukan sekadar isu energi. Ini menyangkut keadilan, pemerataan, dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62