Poin Penting
- Industri facility management (FM) Indonesia diproyeksikan tumbuh pesat, mencapai USD7,43 miliar pada 2032 dengan CAGR sekitar 9 persen
- Perubahan pola kerja hybrid mengubah cara pengelolaan gedung, dari sekadar rutinitas operasional menjadi kemampuan adaptif terhadap okupansi dan perilaku tenant yang dinamis.
- FM modern menuntut standar baru berbasis sistem dan teknologi, mencakup monitoring digital, wellness building, teknologi touchless, serta standarisasi dan pelatihan.
Jakarta – Pasar industri facility management (FM) di Indonesia diproyeksikan bisa tumbuh hingga USD7,43 miliar pada 2032. Market Research Future menyebut tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) industri ini bisa mencapai 9 persen, didorong digitalisasi dan adaptasi hybrid work.
Perubahan pola kerja pasca pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi industri pengelolaan gedung komersial atau facility management. Banyak perusahaan yang menerapkan model hybrid work. Tren ini mengubah cara penggunaan gedung. Tingkat okupansi pun berfluktuasi hingga 50 persen.
Kondisi ini menuntut pengelola mengubah pendekatan lama yang berfokus pada rutinitas. Kini, keberhasilan pengelolaan gedung tidak lagi diukur dari konsistensi aktivitas harian, melainkan kemampuan beradaptasi terhadap perilaku tenant yang semakin dinamis.
Selama ini, FM seringkali hanya dipahami sebagai layanan kebersihan atau perbaikan teknis. Tapi, perubahan pola kerja membuat pemahaman itu tidak lagi relevan. Ketika kehadiran karyawan di gedung menjadi semakin dinamis, FM dituntut untuk melampaui pengelolaan fisik dan berfokus pada pengelolaan kondisi operasional secara menyeluruh.
Baca juga: Unilever Resmi Lepas Bisnis Teh Sariwangi Rp1,5 Triliun ke Grup Djarum, Ini Tujuannya
Hideyuki Hayashi, Commercial Director AEON Delight Indonesia mengungkapkan, di tengah berbagai dinamika yang dihadapi, kemampuan beradaptasi menjadi fondasi utama FM modern.
Menurutnya, FM tidak hanya berbicara soal aktivitas pembersihan atau inspeksi, tapi yang dikelola adalah kondisi fasilitas secara berkelanjutan. Mulai dari kebersihan, keselamatan, hingga stabilitas operasional agar tetap selaras dengan realitas hybrid work dan fluktuasi okupansi.
“Tantangannya adalah menjaga kualitas fasilitas tetap konsisten, meskipun pola penggunaan gedung terus berubah,” ujar Hayashi dalam keterangan resmi, Kamis, 15 Januari 2025.
Pergeseran ini membawa konsekuensi berupa lahirnya standar baru dalam operasional gedung. Sebut saja transparansi sanitasi, tenant kini menuntut laporan real-time dan sistem monitoring digital sebagai jaminan keamanan kesehatan.
Selanjutnya, dari sisi wellness building, pemanfaatan cahaya alami dan area hijau bukan lagi pelengkap estetika, tapi menjadi investasi strategis untuk meningkatkan retensi tenant melalui kesehatan mental penghuninya.
Sementara, dari sisi technology touchless, implementasi IoT dan sensor otomatis menjadi solusi untuk menjaga efisiensi di tengah trafik yang fluktuatif.
Di luar itu, konsistensi kualitas layanan masih menjadi salah satu tantangan utama dalam industri pengelolaan gedung. Pergantian personel maupun perubahan manajemen sering berimbas pada stabilitas operasional. Tanpa sistem yang dirancang dengan baik, kualitas layanan sangat bergantung pada individu, bukan pada struktur.
Baca juga: Optima Prima Metal Sinergi (OPMS) Bersiap Diversifikasi Bisnis pada 2026
Maka itu, menurut Hayashi, sistem yang dirancang secara matang menjadi kunci untuk mencegah degradasi operasional dalam jangka panjang.
“Optimalisasi FM bukan hanya soal efisiensi biaya jangka pendek, melainkan tentang bagaimana sistem dirancang untuk bertahan. Investasi pada pelatihan dan standarisasi memungkinkan kualitas tetap terjaga, sekalipun personel berganti. Pendekatan inilah yang menjaga keberlanjutan operasional dan daya saing fasilitas ke depan,” tuturnya. (*) Ari Astriawan










