Tak Ada Orang Lain

Tak Ada Orang Lain

Oleh Awaldi: Direktur Operasional Bank Muamalat Indonesia, dan penulis buku berjudul Karyawan Galau Nasabah Selingkuh.

PIDATO presiden di Sentul 14 Juli 2019 menyentak. Disampaikan di tengah-tengah pendukung yang berjibun memakai seragam-putih-putih, dengan yel-yel dan tepuk tangan yang tidak pernah berhenti sepanjang acara.

Pidato yang disebut sebagai Visi Indonesia, merupakan pidato kemenangan dalam Pilpres 2019 dan merupakan pencanangan visi dan kerja pemerintahan baru 5 tahun ke depan.

Tidak tanpa sebab sehari sebelum pidato yang meriah itu, Jokowi dan Prabowo bertemu santai di Sabtu pagi yang cerah di atas kereta MRT kebanggaan rakyat Indonesia. Pertemuan yang tidak di sangka-sangka, membuat beberapa orang terperanjat. Termasuk saya. Baru saja sampe kembali di rumah sehabis tennis di pagi Sabtu itu, isteri saya bilang ada pertemuan bersejarah di MRT Lebak Bulus. Saya setengah nggak percaya. Baru setelah melihat Breaking News di televisi, saya sadar bahwa “Indonesia mulai melangkah maju”.

Pidato Jokowi yang disampaikan sehari setelah pertemuan itu mendapat aksentuasi dan konteks yang lebih tajam. Sehingga waktu melihat Jokowi bersemangat menyampaikan Visi Indonesia itu saya pun merasakan getaran-getaran, setidaknya seperti yang dirasakan oleh pendukungnya yang histeris “setengah berteriak” yang langsung mendengarkan melalui pengeras suara dolby stereo di stadium yang megah.

Materi pidato Jokowi yang panjang lebar di televisi, yang banyak dipuji orang, tidak saya perhatikan secara seksama. Saya malah asyik melihat dan mengagumi ruangan yang dipake yang diatur rapi dan memenuhi unsur pertunjukan teater, dan reaksi-reaksi pendukungnya yang membuat suasana menjadi sangat meriah. Dan saya terpaku pada bagian terakhir pidatonya, ketika Jokowi menyampaikan bahwa semua visi dan cita-citanya itu yang disebut “5 prioritas kerja” hanya bisa dicapai jika prasyarat utama dipenuhi.
Saya pun mendekatkan kuping ke televisi dan mendengarkan dengan lebih fokus. Presiden yang baru terpilih ini bilang bahwa semua prioritas kerja ini tidak bisa dicapai kalau tidak ada keteguhan dan kekokohan, kalau tidak ada nilai persatuan dan persaudaraan rakyat Indonesia. Jokowi menyebut-nyebut tentang ideologi Pancasila, persatuan dan kesatuan bangsa, dan bhineka tunggal ika.

Saya pun terduduk setelah mendengarkan pidato itu. Saya memandang ke halaman belakang rumah yang dihiasi dengan taman dan bunga yang selalu saya rawat rapi setiap minggu bersama tukang kebun bayaran. That’s true! Apapun cita-cita negara yang mau dicapai akan rontok di tengah jalan kalau fondasinya tidak kuat. Kalau rakyat masih terbelah, masih merasa menang sendiri, masih merasa yang terbaik, masih merasa “kita berbeda”, masih merasa sakit hati.
Itu sudah pasti kalau fondasi tidak kuat, cita-cita tinggi akan berantakan.

Founding father kita sudah memikirkannya sejak dulu, karena itu maka lahirlah Pancasila di tangan Soekarno. Tapi apakah itu sudah cukup?
Sejarah sudah membuktikan bahwa ajaran Pancasila yang disampaikan melalui penataran P4 yang ketat di era 80-an, sekarang ini sudah tak berbekas. Sekolah-sekolah mengajarkan untuk berbuat baik kepada sesama, tetap saja perseteruan antar sekolah terjadi di mana-mana. Antar kelompok berkelahi. The Jakmania dan Babotoh ribut, begitu juga dengan supporter sepakbola lainnya. Antar pendukung pilpres, pilgub dan pilbub juga saling bermusuhan. Kelompok yang satu dengan kelompok yang lain bertikai.

Fenoma ini tidak hanya di negara kita. Pertikaian kelompok yang berbeda identitas terjadi dimana-mana. Kebanggaan atas ras dan suku menjadi malapetaka. Terjadi pengusiran ras tertentu. Terjadi pembunuhan. Perkelahian antar suku. Moral dan agama disalahgunakan. Sehingga atas nama agama menyerang pemeluk agama lain, melakukan kekerasan, membiarkan terorisme.

Dalam perenungan saya di pinggir taman di belakang rumah itu, sambil memandang rerumputan hijau yg masih dibasahi embun pagi saya serasa bertemu dengan guru spritual. Kakek tua itu datang dan mengatakan bahwa untuk mempunyai mental inklusif, mental yang menghargai pihak lain, yang dari lubuk hatinya tidak ingin mencelakakan orang lain; “kamu itu mesti bisa melangkahi badanmu sendiri”.
Tentu saya tak mengerti dengan nasehat kakek tua ini. Saya hanya melongo, sudah menjadi tanda bagi kakek ini untuk meneruskan penjelasannya, “selagi kamu masih mengidentifikasikan diri sebagai badan yang kelihatan, kamu tidak akan bisa dengan ikhlas menghargai dan merangkul orang lain”.
Kakek ini meneruskan bahwa yang membuat kita merasa sebagai orang dan kelompok yang berbeda dengan orang lain adalah karena kita dibatasi oleh kehadiran fisik. Sehingga secara kasat mata kita merefer ke tubuh kita ketika bilang bahwa ini saya, itu kamu. Kalau kita tidak dibatasi oleh tubuh fisik, kita tidak akan bisa membedakan mana saya, mana dia dan mana kamu.

Wah jelas pernyataan ini tidak gampang saya cerna. Tetapi pelan-pelan saya melihat esensinya. Bahwa tubuh bukanlah satu- satunya unsur diri kita. Bahwa fisik sering menjadi kendala kita dalam bertumbuh menjadi manusia yang utuh. Manusia yang selain tubuh dan jiwa juga memiliki unsur hakiki, yg disebut unsur non jasmani, disebut juga sebagai ruh(ani).

Kakek itu dalam lamunan saya langsung memotong seakan-akan tahu apa yang sedang saya pikirkan, “nah itu secara hakiki unsur kita semua sebagai manusia sama”. Manusia yang satu dengan yang lain punya unsur hakiki yang bukan hanya sama bentuknya, tapi sama barangnya, sama esensinya.
Saya sedikit mengerti. Kakek itu sayup-sayup menghilang dari pandangan sambil berkata, “dalam unsur hakiki ini tidak ada lagi saya, dia dan kamu”. Yang ada hanya unsur hakiki yang sama dan tidak berbeda, yang satu, yang memang menjelma ke dalam tubuh berbeda. Tubuhlah yang membatasi, dan memberikan identitas sehingga seakan-akan kita adalah orang berbeda.

Terbangun dari lamunan itu, walaupun masih samar-samar saya mulai mengerti bahwa fondasi kuat persatuan bangsa hanya bisa dicapai jika setiap insan Indonesia mempunyai mental inklusif. Yaitu pemikiran, perasaan dan pengalaman bahwa aspek sesungguhnya dari kemanusiaan kita bukanlah badan fisik, akan tetapi hakikat ruhani yang unsurnya sama antara kita dan orang lain. Mental inklusif itu melihat tak ada orang lain.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.