Poin Penting
- DBS menilai gejolak pasar global mulai mereda, sementara pelemahan rupiah diperkirakan tidak akan secepat yang terjadi pada paruh pertama 2026.
- Sentimen terburuk dinilai mulai tercermin di pasar, ditandai dengan pergerakan harga aset yang mulai melandai setelah mengalami penurunan tajam.
- Rupiah diperkirakan sulit menembus Rp20.000 per dolar AS dalam waktu dekat, meski ketidakpastian global dan tekanan terhadap mata uang masih tinggi.
Jakarta – Head of Global Financial Markets Bank DBS Indonesia, Ronny Setiawan, menilai gejolak pasar keuangan global yang terjadi sepanjang 2026 mulai menunjukkan tanda mereda.
Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berpotensi terbatas meski ketidakpastian global tetap berada di level tinggi.
Pada awal tahun, misalnya, pasar sempat optimistis lantaran ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Akibat sentiment tersebut mendorong prospek investasi dan pertumbuhan aset.
Namun, situasi berubah akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, yang kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.
“Volatilitas di pasar mulai dari awal tahun sampai sekarang itu cukup tinggi ya. Di mana, kalau kita flashback sampai Januari, kondisi ekonomi cukup positif dan kita berharap ada penurunan suku bunga,” ujarnya dalam Media Briefing DBS Institutional Forum 2026 di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2026.
Ia menjelaskan, melonjaknya tekanan inflasi mendorong bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Baca juga: IHSG Diproyeksi Masih Konsolidasi di Tengah Sentimen BI
Di Indonesia, kata Ronny, kondisi tersebut tercermin dari kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin dalam waktu relatif singkat sebelum akhirnya dipertahankan pada rapat terakhir.
Sentimen Terburuk Berpotensi Tercermin di Pasar
Ronny membeberkan, pertanyaan utama pelaku pasar saat ini bukan lagi apakah volatilitas masih akan terjadi, melainkan apakah seluruh sentimen negatif sudah tercermin dalam harga aset (the worst has been priced in).
Ia bilang, salah satu indikator sederhana untuk melihat kondisi tersebut yakni ketika penurunan harga mulai melandai dan pasar bergerak lebih stabil.
“Gimana cara kita tahu ‘the worst has been priced in‘ adalah pada saat ada pelandaian. Jadi kalau market itu harganya turun, misal kayak IHSG turun 30 persen, itu kan momentum. Kalau pasar mulai melandai atau bergerak sideways setelah mengalami penurunan tajam, itu bisa menjadi indikasi bahwa sentimen terburuk sudah mulai diperhitungkan pasar,” katanya.
Pelemahan Rupiah Tidak Secepat Sebelumnya
Diakuinya, pelemahan rupiah dari kisaran Rp17.000 menjadi Rp18.000 per dolar AS terjadi jauh lebih cepat dibandingkan pola historis.
Baca juga: Efek Perry Warjiyo, IHSG Diproyeksi Bergerak di Rentang 6.060-6.300
Menurutnya, secara statistik pergerakan sebesar itu dalam waktu sekitar satu setengah bulan merupakan kondisi yang tidak lazim.
“Biasanya kenaikan 1.000 poin itu lama, bisa satu tahun hingga satu setengah tahun. Tetapi 17.000 ke 18.000 itu cuma satu setengah bulan ya, antara kemarin tuh kejadian waktu dividend season,” bebernya.
Meski demikian, ia menilai bahwa peluang rupiah melemah hingga Rp20.000 per dolar AS dalam waktu dekat masih relatif kecil.
Ia menilai, pelemahan rupiah sepanjang tahun 2026 sendiri sudah mencapai sekitar 7 persen terhadap dolar AS. Hal ini menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terbesar di kawasan.
“Kemungkinan pelemahan lanjutan yang secepat kemarin sudah mulai berkurang. Terus currency-nya mungkin kalau naik pelemahan lebih lanjut yang secepat kemarin mungkin enggak,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


