Poin Penting:
- Virus hanta menular terutama melalui inhalasi aerosol dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
- Infeksi memiliki fase klinis dari gejala ringan hingga kondisi kritis berupa gagal napas akut.
- Deteksi dini dan penanganan cepat sangat penting karena tingkat kematian bisa mencapai 40 persen.
Jakarta – Virus hanta menjadi perhatian karena potensi penularannya dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus. Penyakit ini tergolong zoonosis dan dapat berkembang cepat menjadi kondisi serius jika tidak terdeteksi sejak dini.
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa penularan utama virus hanta terjadi melalui partikel kecil di udara yang berasal dari ekskresi tikus yang terinfeksi.
“Hanta virus pulmonary syndrom ini adalah penyakit zoonosis dari keluarga virus hantavirus. Cara penularan utamanya itu inhalasi aerosol, jadi terhirup dari debu urin yang mengering, feses tikus ataupun air liur tikus yang sakit itu,” kata Dicky dalam percakapan daring dengan Antara, Rabu (6/5/2026).
Selain melalui udara, paparan juga bisa terjadi saat seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi urin atau kotoran tikus, meski tidak semua jenis virus hanta dapat menular antarmanusia.
Baca juga: Virus HMPV Sudah Ada di Indonesia, Menkes Budi: Masyarakat Jangan Panik
Penularan Virus Hanta dari Tikus ke Manusia
Penularan virus hanta umumnya terjadi saat seseorang menghirup aerosol yang berasal dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Dalam kondisi tertentu, seperti keberadaan strain khusus seperti virus andes, penularan terbatas antar manusia juga dapat terjadi melalui kontak silang.
Namun demikian, mekanisme utama tetap berasal dari hewan pengerat ke manusia. Risiko meningkat di lingkungan dengan sanitasi buruk atau area tertutup dengan ventilasi minim, seperti kapal laut atau gudang.
Fase Klinis: Dari Gejala Awal hingga Kondisi Kritis
Infeksi virus hanta memiliki tahapan klinis yang perlu diwaspadai. Pada fase awal, pasien biasanya mengalami gejala ringan seperti demam, nyeri tubuh, dan otot lemas.
Seiring perkembangan penyakit, kondisi dapat memburuk dengan cepat. Pada fase kritis, terjadi kerusakan pembuluh darah paru yang memicu kebocoran cairan. Akibatnya, paru-paru terisi cairan dan menyebabkan edema serta gagal napas akut.
“Biasanya kematian bisa sampai 40 persen dengan mekanisme utama adanya vascular leakage syndrome, sehingga paru terisi cairan dan ini terjadi hipoksia berat,” kata Dicky.
Perburukan kondisi ini bisa berlangsung dalam hitungan hari, sehingga diagnosis cepat menjadi faktor penentu keselamatan pasien.
Baca juga: Antisipasi Virus Nipah, Singapura Terapkan Skrining Ketat di Bandara
Penanganan dan Pencegahan Infeksi Virus Hanta
Hingga saat ini, belum tersedia terapi antivirus spesifik untuk virus hanta. Penanganan yang dilakukan bersifat suportif, seperti pemberian oksigen menggunakan ventilator serta pengaturan cairan tubuh secara ketat.
Deteksi dini menjadi kunci utama untuk mencegah pasien masuk ke fase paru yang berat. Keterlambatan diagnosis dapat meningkatkan risiko kematian secara signifikan.
Meski berbahaya, Dicky menegaskan bahwa potensi virus ini menjadi pandemi global relatif kecil karena penularan utamanya bukan melalui manusia ke manusia.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, terutama di area yang berisiko tinggi terpapar tikus dan memiliki ventilasi terbatas.
Dengan memahami cara penularan dan fase klinisnya, kewaspadaan terhadap virus hanta dapat ditingkatkan, terutama di lingkungan berisiko tinggi, guna mencegah dampak fatal akibat keterlambatan penanganan. (*)
Editor: Galih Pratama


