Poin Penting
- Valuasi IHSG masih menarik dengan PER di bawah 9 kali, sehingga dinilai murah dan membuka peluang akumulasi bagi investor jangka menengah-panjang
- IHSG berpeluang menuju 6.700–6.900 hingga akhir 2026, bahkan berpotensi menembus 7.000 jika arus dana asing terus mengalir
- Pasar menanti sinyal BI dalam RDG, dengan prospek IHSG tetap positif selama stabilitas ekonomi dan arus modal asing terjaga, meski risiko volatilitas global masih membayangi.
Jakarta – Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai valuasi pasar saham Indonesia masih berada pada level yang menarik.
Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi investor jangka menengah hingga panjang untuk mulai melakukan akumulasi saham secara bertahap.
“Dengan price to earnings ratio (PER) IHSG yang berada di bawah 9 kali, valuasi pasar dinilai relatif murah dibandingkan rata-rata historis maupun sejumlah bursa regional,” ucapnya dikutip, 20 Juli 2026.
Hendra menjelaskan, valuasi yang relatif murah tersebut memberikan ruang bagi pasar saham untuk melanjutkan penguatan apabila didukung oleh sentimen positif, baik dari dalam maupun luar negeri.
IHSG Diramal Begerak di 6.700–6.900
Ia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak ke kisaran 6.700–6.900 hingga akhir 2026. Bahkan, level psikologis 7.000 dinilai berpeluang ditembus apabila aliran dana asing terus berlanjut.
“Pergerakan pasar tidak hanya ditentukan oleh kebijakan Bank Indonesia (BI), tetapi juga dipengaruhi keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), perkembangan geopolitik global, stabilitas nilai tukar rupiah, harga komoditas, serta kinerja laba emiten,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Hendra memperkirakan perdagangan saham pada pekan menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia masih akan diwarnai sikap wait and see dari pelaku pasar.
“Pelaku pasar tidak hanya menanti keputusan mengenai BI Rate, tetapi juga mencermati arah kebijakan Bank Indonesia ke depan, terutama terkait stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan prospek arus modal asing,” ujar Hendra.
Menurutnya, dalam kondisi seperti saat ini, pasar cenderung lebih sensitif terhadap sinyal atau forward guidance yang disampaikan Bank Indonesia dibandingkan besaran perubahan suku bunga acuan itu sendiri.
Selama BI mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar rupiah dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi, respons pasar diperkirakan tetap positif karena ekspektasi tersebut sebagian besar telah diperhitungkan oleh investor.
Namun, apabila bank sentral memberikan sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif, tekanan jangka pendek terhadap IHSG masih berpotensi terjadi, terutama pada saham-saham di sektor yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga.
Meski begitu, Hendra menilai langkah tersebut juga dapat dipandang positif karena mampu memperkuat kepercayaan investor terhadap stabilitas perekonomian Indonesia.
Karena itu, selama fundamental ekonomi domestik tetap terjaga dan arus modal asing terus menunjukkan perbaikan, peluang pemulihan IHSG hingga akhir tahun dinilai masih terbuka.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati dinamika global yang sewaktu-waktu dapat memicu volatilitas pasar. (*)
Editor: Galih Pratama


