Poin Penting
- Utang paylater perbankan mencapai Rp28,3 triliun per Maret 2026.
- Jumlah pengguna paylater bank meningkat menjadi 30,81 juta rekening.
- Kredit perbankan nasional tumbuh 9,49 persen secara tahunan.
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat utang masyarakat Indonesia di layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater perbankan mencapai Rp28,3 triliun pada Maret 2026. Angka tersebut tumbuh 24,20 persen secara tahunan (yoy).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan, porsi kredit BNPL perbankan tercatat sebesar 0,33 persen dari total kredit perbankan nasional.
“Per Maret 2026, baki debet kredit BNPL sebagaimana dilaporkan dalam SLIK, tumbuh 24,20 persen yoy menjadi Rp28,3 triliun,” ujar Dian dalam Konferensi Pers RDK, dikutip pada Kamis, 7 Mei 2026.
Baca juga: 60 Persen Pengguna Didominasi Gen Z-Milenial, Akulaku Finance Agresif Perluas BNPL
Dian menyebutkan bahwa jumlah rekening paylater perbankan juga mencatatkan kenaikan menjadi sebanyak 30,81 juta pengguna, dibandingkan bulan sebelumnya 30,55 juta pengguna.
“Dengan jumlah rekening paylater mencapai 30,81 juta,” imbuhnya.
Kredit Perbankan Nasional Terus Tumbuh
Adapun, OJK mencatat pada Maret 2026 kredit perbankan tumbuh sebesar 9,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp8.659 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 9,37 persen.
Dari sisi penggunaan, kredit investasi menjadi motor utama dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 20,85 persen. Sementara itu, berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh paling tinggi, yakni 14,88 persen.
Baca juga: Jangan Asal Pakai Paylater, Ini Risiko yang Harus Diwaspadai
Di sisi lain, kredit UMKM mulai menunjukkan pemulihan dengan tumbuh tipis 0,12 persen, setelah sebelumnya terkontraksi 0,56 persen pada Februari 2026. Sementara berdasarkan kepemilikan, bank BUMN mencatatkan pertumbuhan kredit tertinggi sebesar 13,66 persen. (*)
Editor: Yulian Saputra


