Keuangan

Utang Pindar Warga RI Tembus Rp27,86 Triliun per Januari 2025

Jakarta – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mencatat industri Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) sepanjang Januari 2025 berhasil menyalurkan pembiayaan Rp27,86 triliun dengan outstanding loan sebesar Rp78,5 triliun.

Pertumbuhan itu juga diikuti dengan perbaikan tingkat risiko kredit macet agregat (TWP90) di platform fintech peer-to-peer (P2P) lending pada Januari 2025, yang berhasil ditekan ke level 2,52 persen membaik dari pencapaian di Desember 2024 sebesar 2,60 persen.

Kinerja positif tersebut sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang mendapati indeks literasi keuangan masyarakat mencapai 66,46 persen, dengan capaian indeks inklusi keuangan sebesar 80,51 persen.

Baca juga: AFPI Pede Industri Pindar Makin Tumbuh di 2025

Ketua Umum AFPI, Entjik S. Djafar menyampaikan, literasi dan edukasi merupakan kunci untuk membantu masyarakat agar tidak terjebak oleh platform ilegal yang merugikan dan membantu pemerintah memperluas literasi dan inklusi keuangan nasional.

“Kami meyakini dengan edukasi dan inovasi yang berkelanjutan, industri ini bisa terus berkontribusi positif terhadap ekonomi digital Indonesia, lewat kemudahan akses pada layanan keuangan,” ucap Entjik dalam keterangan resmi di Jakarta, 6 Mei 2025.

Entjik menambahkan, dukungan pemerintah melalui regulasi berhasil membuka jalan bagi industri dalam terus berinovasi, salah satunya melalui Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi yang memberikan jaminan perlindungan bagi konsumen, sehingga meningkatkan kepercayaan publik terhadap pelaku usaha.

Selain itu, kehadiran Panduan Kode Etik Kecerdasan Buatan (AI) oleh OJK juga mampu memandu industri P2P Lending dalam memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) secara etis dan berpihak pada konsumen.

Baca juga: Hingga Maret 2025, BRI Salurkan Kredit Mikro Rp632,22 Triliun

“Beberapa teknologi dengan AI itu seperti verifikasi wajah secara real time, verifikasi biometrik, serta penggunaan kriptografi yang mencegah terjadinya manipulasi, pencurian, maupun penyalahgunaan data identitas,” imbuhnya.

Oleh karena itu, AFPI akan terus menggencarkan program literasi dan inklusi keuangan pada 2025. Komitmen itu terlihat dari sejumlah rencana kegiatan literasi dan edukasi dengan menyasar berbagai elemen masyarakat, mulai dari UMKM dan komunitas, civitas academika, media massa, serta program-program dari para anggota AFPI. (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Ini Plus Minus Implementasi Demutualisasi BEI

Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More

2 hours ago

DPR Soroti Konten Sensasional Jadi Pintu Masuk Judi Online

Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More

2 hours ago

Program Gentengisasi Prabowo, Menkeu Purbaya Proyeksi Anggaran Tak Sampai Rp1 T

Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More

3 hours ago

Fundamental Kokoh, Bank BPD Bali Catatkan Pertumbuhan Positif dan Rasio Keuangan Sehat

Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More

3 hours ago

Demutualization of the IDX, a “Bloodless” Coup Three OJK Commissioner Resign Honourably

By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More

3 hours ago

Danantara Dukung Reformasi Pasar Modal dan Kebijakan Free Float OJK, Ini Alasannya

Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More

5 hours ago