Poin Penting
- BI mencatat ULN RI triwulan IV 2025 sebesar USD431,7 miliar, naik dari USD427,6 miliar, terutama didorong sektor publik
- ULN pemerintah naik ke USD214,3 miliar, mayoritas (99,99%) berjangka panjang dan didorong arus modal asing ke SBN global
- Rasio ULN terhadap PDB 29,9 persen dengan dominasi utang jangka panjang 85,7 persen; ULN swasta turun ke USD192,8 miliar.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tetap terjaga. Pada triwulan IV 2025 ULN Indonesia tercatat sebesar USD431,7 miliar atau setara Rp7.288 triliun (asumsi kurs Rp16.880/USD), lebih tinggi dibandingkan dengan posisi ULN pada triwulan III 2025 sebesar USD427,6 miliar.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, perkembangan posisi ULN triwulan IV 2025 terutama dipengaruhi oleh ULN sektor publik.
Posisi ULN pemerintah pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar USD214,3 miliar, lebih tinggi dibandingkan posisi triwulan III 2025 sebesar USD210,1 miliar.
Baca juga: Utang Luar Negeri Perbankan November 2025 Turun Jadi USD31,41 Miliar
“Perkembangan ULN tersebut dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional seiring tetap baiknya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,” kata Denny dalam keterangannya, Rabu, 18 Februari 2026.
Denny menyatakan, sebagai salah satu instrumen dalam pembiayaan APBN, ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel dengan pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas guna menjaga keberlanjutan fiskal serta memperkuat perekonomian nasional.
Adapun penggunaan ULN pemerintah difokuskan untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,1 persen dari total ULN pemerintah), administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (19,8 persen), jasa pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,7 persen), serta transportasi dan pergudangan (8,6 persen).
“Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah,” tambahnya,
Sementara itu, posisi ULN swasta tercatat sebesar USD192,8 miliar pada triwulan IV 2025, menurun dibandingkan dengan posisi triwulan III 2025 sebesar USD194,5 miliar. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh penurunan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations).
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan; jasa keuangan dan asuransi; pengadaan listrik dan gas; serta pertambangan & penggalian, dengan pangsa mencapai 79,9 persen terhadap total uln swasta.
“ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,3 persen terhadap total ULN swasta,” imbuhnya.
Baca juga: Pemerintah Tarik Utang Rp736,3 Triliun hingga Desember 2025
Denny menekankan bahwa struktur ULN Indonesia tetap sehat karena didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,9 persen pada triwulan IV 2025, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 85,7 persen dari total ULN.
“Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, BI dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN,” ujar Denny.
Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian. (*)
Editor: Galih Pratama










