Poin Penting
- BACH menargetkan pendapatan Rp3 triliun pada 2030 dengan pertumbuhan rata-rata 12 persen per tahun
- Laba bersih BACH melonjak 97,5 persen pada 2025 menjadi Rp155 miliar, memperkuat optimisme ekspansi
- IPO BACH berpotensi menghimpun Rp307,5 miliar untuk modal kerja dan pelunasan sebagian utang bank.
Jakarta – PT Bach Multi Global Tbk (BACH) telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini (8/7). Melalui aksi korporasi penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO), perseroan memproyeksikan pendapatan mencapai Rp3 triliun pada 2030.
“Terkait dengan target Rp3 triliun di 2030, kita sangat optimis karena kita melihat juga dari sisi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, maupun lini bisnis kita di power system maupun di infrastruktur telekomunikasi yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat,” ucap Budi Kurniawan, Direktur Utama BACH, dalam Konferensi Pers di Jakarta, 8 Juli 2026.
Di kesempatan yang sama, Direktur BACH, Hasby Jap, menambahkan target pendapatan tersebut dinilai cukup moderat, jika melihat pertumbuhan secara historical dari tahun 2023-2025.
Baca juga: Resmi Melantai di Bursa, Harga Saham BACH dan EMMI Kompak Menguat
“Trend historical 2023 ke 2025 sendiri, jadi pertumbuhannya kita secara tahun ke tahun itu di tahun 2023 ke 2024 kita itu bertumbuh sekitar 40 persen, 39 persenan, dan 2024 ke 2025 sendiri kita bertumbuh sekitar 25 persen,” ujar Hasby.
Oleh karena itu, kata Hasby, target pertumbuhan pendapatan secara rata-rata perseroan diperkirakan sekitar 12 persen.
“Target tersebut dinilai sangat moderat dan optimis dapat tercapai,” jelasnya.
Diketahui, sepanjang 2025, laba bersih BACH melonjak hingga 97,5 persen menjadi sekitar Rp155 miliar. Peningkatan tersebut turut mendorong margin laba bersih naik menjadi 9 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan 6,3 persen pada tahun sebelumnya.
IPO Tawarkan 615 Juta Saham
Pada aksi IPO, BACH menawarkan sebanyak 615 juta saham baru atau setara 15,06 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Adapun kisaran harga penawarannya Rp400-500 per saham, sehingga berpotensi menghimpun dana hingga Rp307,5 miliar.
Baca juga: BEI Targetkan Lebih dari 1.100 Emiten IPO pada 2030
Langkah strategis ini menjadi fondasi bagi BACH untuk mempercepat ekspansi bisnis di sektor penyediaan energi dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital dan keandalan pasokan listrik di Indonesia.
Dana hasil IPO akan digunakan secara produktif untuk memperkuat pertumbuhan usaha. Sekitar 70 persen dana akan dialokasikan sebagai modal kerja, khususnya untuk pembelian genset guna memenuhi permintaan penjualan maupun penyewaan.
Sementara sekitar 30 persen sisanya akan digunakan untuk pembayaran sebagian pinjaman bank sehingga memperkuat struktur permodalan dan menurunkan tingkat leverage perseroan. (*)
Editor: Galih Pratama


