Perbankan

Upaya Perbarindo Ubah Mindset “Kaku” pada Industri BPR dan BPRS

Jakarta – Industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS) di Tanah Air sudah banyak berbenah dengan melakukan transformasi melalui layanan digital. Langkah ini dilakukan untuk mengubah anggapan klasik  yang menyebut industri BPR dan BPRS “kaku” lantaran terbentur sistem dan regulasi ketat.

“Industri BPR dan BPRS di Indonesia memiliki semangat yang sama, di mana Perbarindo ingin mengubah anggapan klasik bahwa BPR-BPRS adalah industri yang kaku karena terbentur sistem serta regulasi yang ketat,” kata I Gede Hartadi, Wakil Ketua Umum Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo), dalam acara Top 100 BPR The Finance 2025, di Jakarta, Jumat, 20 Juni 2025.

Baca juga : Aset BPR Naik Jadi Rp203,68 Triliun Meski Jumlah Bank Susut

Ia menuturkan, tranformasi digital dianggap sebagai strategi baru berbisnis. Namun perlu diingat, tranformasi ini bukan hanya sekadar mendigitalisasi produk, tapi mengubah pola pikir dan solusi menjadi digital sesuai perilaku dan kebutuhan masyarakat. 

“Transformasi terjadi menjurus pada sistem produksi, manajemen, dan tata kelola industri. Disruption innovations bermunculan, yaitu berbagai inovasi baru yang berhasil mengubah, mengganti, atau memperbaharui model bisnis antara lain-lain struktur dan lingkungan yang kompetitif,” bebernya.

Pihaknya percaya, keunggulan komperatif yang dimiliki oleh industri BPR dan BPRS, tidak akan pernah tersaingi dengan kempetitor karena fokus melayani usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

Baca juga : Berani Berubah, Kunci Sukses BPR Triastra Sejahtera

“Pendekatan personal, pelayanan mudah dan cepat, BPR sebagai community bank yang keberadaannya menyebar merata di seluruh penjuru Tanah Air,” jelasnya.

Namun, pihaknya juga menyadari bahwa lambat laun layanan berbasis digital, fintech, dan sejenisnya, akan masuk ke wilayah grassroot. Hal ini menyebabkan persaingan semakin ketat.

“Kami menyadari bahwa untuk bisa memenangkan persaingan bisnis, maka BPR-BPRS harus berhenti bertarung sama satu sama lain untuk mengalahkan kompetitor,” tegasnya.

Menurutnya, cara untuk memenangkan persaingan adalah menciptakan pasar baru dan menguasai pasar tersebut dengan melakukan sinergi dengan berbagai pihak. 

“Tentunya dengan model misi yang saling melengkapi, menguntungkan dan mendorong teman bersama sehingga dampak akhirnya masyarakat yang dilayani lebih mudah, cepat, dan aman,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Laba BNI Tumbuh 3,45 Persen Jadi Rp1,68 Triliun di Januari 2026

Poin Penting BNI membukukan laba bersih Rp1,68 triliun pada Januari 2026, naik 3,45 persen yoy… Read More

20 mins ago

IHSG Perkasa di 8.322, CARS dan TKIM jadi Top Gainers

Poin Penting IHSG ditutup naik ke level 8.322,22 pada 25 Februari 2026, dengan 336 saham… Read More

32 mins ago

5 Strategi Penting Perusahaan Asuransi Syariah Pasca Spin Off

Poin penting PT Asuransi Tri Pakarta memisahkan Unit Usaha Syariah menjadi PT Asuransi Tri Pakarta… Read More

49 mins ago

Kemenkeu Klaim Kesepakatan Pajak Digital dengan AS Tak Ganggu PPN PSME

Poin Penting Kemenkeu memastikan kesepakatan dagang dengan AS tidak mengganggu pemungutan PPN PMSE Indonesia tidak… Read More

1 hour ago

Mendes Minta Setop Izin Baru Alfamart-Indomaret di Desa, Ini Alasannya

Poin Penting Mendes mengusulkan penghentian izin baru minimarket di desa untuk melindungi usaha rakyat dan… Read More

2 hours ago

Pengiriman 8.000 TNI ke Gaza Dinilai Berisiko Bebani APBN, Celios Rekomendasikan Hal Ini

Poin Penting Celios menilai rencana pengiriman 8.000 pasukan RI ke Gaza berisiko mempersempit ruang fiskal… Read More

2 hours ago