Poin Penting
- UEA resmi keluar dari OPEC+ untuk fokus pada strategi energi nasional jangka panjang.
- Keputusan diambil di tengah ketegangan geopolitik dan gangguan distribusi minyak global.
- Langkah ini berpotensi melemahkan pengaruh OPEC dan mengguncang stabilitas harga minyak.
Jakarta – Uni Emirat Arab (UEA) resmi mengumumkan keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries dan aliansinya, OPEC+. Keputusan yang dinilai sebagai pukulan telak bagi kertel minyak global ini, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pengumuman yang disampaikan melalui media pemerintah UEA itu menyebutkan bahwa langkah tersebut diambil untuk memprioritaskan kepentingan nasional serta menyesuaikan strategi energi jangka panjang negara.
“Keputusan ini mencerminkan visi strategis dan ekonomi jangka panjang UEA serta profil energi yang terus berkembang,” demikian pernyataan resmi pemerintah, dinukil Al Jazeera, Rabu, 29 April 2026.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Energi, Pengamat Minta Publik Tak Panic Buying BBM
Menteri Energi UEA Suhail Mohamed al-Mazrouei mengatakan, keputusan tersebut telah melalui pertimbangan matang terkait kebijakan produksi dan arah energi ke depan.
Ia menegaskan bahwa keputusan itu diambil secara independen tanpa konsultasi dengan negara anggota lain, termasuk Arab Saudi yang selama ini menjadi pemain utama dalam OPEC.
“Ini adalah keputusan kebijakan. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan dengan cermat kebijakan saat ini dan masa depan yang berkaitan dengan tingkat produksi,” jelas Suhail.
Tekanan Perang dan Gangguan Distribusi
Langkah UEA keluar dari OPEC terjadi saat negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk menghadapi kesulitan distribusi akibat konflik kawasan. Jalur vital Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia ikut terganggu oleh ancaman keamanan dan serangan terhadap kapal tanker.
Kondisi ini memperburuk ketidakstabilan pasar energi global yang sudah tertekan oleh konflik bersenjata dan ketegangan geopolitik.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Pemerintah Fokus Perkuat Pasar Domestik
Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap OPEC yang dinilai berkontribusi terhadap tingginya harga minyak dunia. Trump bahkan mengaitkan dukungan militer AS di kawasan Teluk dengan kebijakan harga energi negara-negara produsen.
Dampak ke OPEC dan Pasar Global
Keluarnya UEA tersebut, yang memiliki kapasitas produksi sekitar 4,8 juta barel per hari diperkirakan akan melemahkan kemampuan OPEC dalam menjaga stabilitas harga minyak.
Kartel yang berbasis di Wina tersebut selama ini berupaya menjaga keseimbangan pasar melalui pengaturan kuota produksi.
Perusahaan riset energi Rystad Energy menilai keputusan ini sebagai perubahan signifikan dalam dinamika industri minyak global.
“Dengan permintaan yang mendekati puncaknya, produsen berbiaya rendah akan lebih memilih meningkatkan produksi dibanding menunggu kuota dalam sistem OPEC,” ujar Analis Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon.
Menurutnya, keluarnya UEA juga berarti Arab Saudi akan memikul beban lebih besar dalam menjaga stabilitas harga minyak dunia, sementara pasar kehilangan salah satu “peredam guncangan” penting.
Sebagai informasi, UEA merupakan anggota lama OPEC sejak 1967 melalui emirat Abu Dhabi, sebelum bergabung sebagai negara pada 1971.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, dinamika internal dan persaingan regional, terutama dengan Arab Saudi yang semakin terlihat, termasuk dalam isu ekonomi dan geopolitik di kawasan Laut Merah. (*)
Editor: Yulian Saputra




