Poin Penting
- Pada Januari 2026, BI mencatat M2 tumbuh 10,0 persen yoy jadi Rp10.117,8 triliun, lebih tinggi dari Desember 2025
- BI juga mencatat M1 tumbuh 14,9 persen yoy, ditopang giro rupiah dan uang kartal
- Adapun kredit naik 10,2 persen yoy, sementara tagihan bersih ke pemerintah pusat melonjak 22,6 persen yoy.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh lebih tinggi. Pada Januari 2026, M2 tumbuh sebesar 10,0 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 9,6 persen yoy sehingga mencapai Rp10.117,8 triliun.
Berdasarkan komponennya, perkembangan uang beredar (M2) didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) dan uang kuasi.
Secara rinci, M1 dengan pangsa 58,5 persen dari M2, pada Januari 2026 tercatat Rp5.923,3 triliun atau tumbuh sebesar 14,9 persen yoy. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 14,0 persen yoy.
Baca juga: BI dan Kemenkeu Sepakat Debt Switching SBN Rp173,4 Triliun Tahun Ini
Peningkatan M1 tersebut disebabkan oleh giro rupiah dan uang kartal di luar bank umum dan BPR yang tumbuh masing-masing sebesar 24,9 persen yoy dan 14,5 persen yoy, meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya masing-masing sebesar 22,3 persen yoy dan 14,3 persen yoy.
Sementara itu, tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp2.543,7 triliun, atau tumbuh 7,6 persen yoy. Ini relatif stabil dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,7 persen yoy.
Selanjutnya, uang kuasi pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp4.148,0 triliun atau tumbuh 5,4 persen yoy, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 5,6 persen yoy, dengan pangsa 41,0 persen dari M2.
Perkembangan tersebut terutama disebabkan oleh giro valas yang terkontraksi sebesar 0,7 persen yoy, setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 2,1 persen yoy.
Sementara itu, simpanan berjangka dan tabungan lainnya masing-masing tumbuh sebesar 5,9 persen yoy dan 15,9 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya masing-masing sebesar 5,8 persen yoy dan 12,3 persen yoy.
Baca juga: Lagi, BI Minta Bank Turunkan Suku Bunga Kredit, Begini Tanggapan BCA
Kemudian, pertumbuhan M2 pada Januari 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pempus dan penyaluran kredit.
Tagihan bersih sistem moneter kepada Pempus tumbuh sebesar 22,6 persen yoy. Angkat ini juga ebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 13,6 persen yoy.
Selain itu, penyaluran kredit pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp8.416,4 triliun atau tumbuh sebesar 10,2 persen yoy, meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 9,3 persen yoy.
Sementara itu, aktiva luar negeri bersih tumbuh sebesar 5,5 persen yoy, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 8,9 persen yoy. (*)
Editor: Galih Pratama










