Poin Penting:
- Trump mencaci Paus Leo XIV yang mengkritik keras kebijakan AS di Iran.
- Paus Leo XIV menegaskan bahwa tindakan militer AS tidak sesuai dengan ajaran Kristus dan tidak membawa perdamaian.
- Trump menuduh Paus terlalu terlibat politik dan meminta sang pemimpin Gereja Katolik berhenti mengikuti kelompok kiri.
Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menimbulkan kontroversi setelah Paus Leo XIV menyoroti tindakan Washington di Iran. Perselisihan kedua figur global ini memanas usai Vatikan mengecam ancaman AS terhadap rakyat Iran, yang dinilai tidak dapat diterima.
Pertentangan bermula saat Paus Leo XIV mengomentari situasi geopolitik di Timur Tengah, menyebut bahwa hasrat untuk mendominasi tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Kritik tersebut segera memicu respons keras dari Trump melalui platform media sosialnya.
Dalam tanggapannya, Trump menilai bahwa pemimpin Gereja Katolik itu keliru memahami kebijakan luar negeri AS, terutama terkait Iran dan Venezuela.
Baca juga: Harga Minyak Tembus USD102 per Barel usai Trump Ancam Blokade Hormuz
Serangan Trump Terhadap Paus Leo XIV Memperuncing Ketegangan
Ketegangan meningkat ketika pada awal April lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyerukan doa bagi tentara Amerika. Paus Leo XIV menanggapi melalui sebuah homili dengan menyatakan bahwa keinginan untuk “mendominasi sesuatu” tidak sejalan dengan ajaran Yesus Kristus.
Respons Trump datang melalui TruthSocial, mempertajam polemik.
“Saya tidak ingin seorang Paus berpikir bahwa baik-baik saja jika Iran memiliki senjata nuklir. Saya tidak ingin seorang Paus menganggap Amerika mengerikan karena menyerang Venezuela, sebuah negara yang mengirimkan narkoba besar-besaran ke AS dan, yang lebih buruk lagi mengosongkan penjara mereka, termasuk mengirimkan para pembunuh, pengedar narkoba, dan penjahat, ke negara kami; dan saya tidak ingin ada seorang Paus yang mengkritik presiden Amerika Serikat, karena saya melakukan persis apa yang menjadi tujuan saya dipilih (menjadi presiden) dengan kemenangan telak,” kata Trump dikutip Antara, Senin (13/4/2026).
Trump kemudian menyatakan bahwa Paus Leo XIV tidak akan berada di Vatikan jika ia tidak memimpin pemerintahan di AS. Ia bahkan meminta sang Paus berhenti “menjilat kelompok kiri radikal” dan kembali fokus menjadi pemimpin spiritual, bukan politisi.
Pernyataan Paus soal Konflik Iran Memicu Reaksi Beruntun
Perselisihan kembali memanas ketika Paus Leo XIV mengkritik keras narasi religius yang digunakan Trump dan Menhan AS dalam menggambarkan perang Iran. Melalui akun X, Paus menegaskan:
“Tuhan tidak merestui konflik apa pun. Siapa pun yang menjadi murid Kristus, sang Raja Damai, tidak akan pernah berada di pihak mereka yang dulu menghunus pedang dan kini menjatuhkan bom. Tindakan militer tidak akan menciptakan ruang bagi kebebasan atau masa-masa #Damai.”
Meski tidak secara eksplisit menyebut nama Trump, pernyataan itu muncul di tengah rangkaian komentar bernuansa religius dari Gedung Putih yang menggambarkan operasi militer AS sebagai tindakan dengan restu ilahi.
Komentar tersebut kemudian memperkuat alasan Trump mencaci Paus di ruang publik, memperlebar jurang politik dan moral antara kedua figur tersebut.
Kontroversi Trump mencaci Paus Leo XIV menandai semakin lebarnya perbedaan antara kepentingan politik Washington dan suara moral Vatikan. Keduanya kini berada pada posisi yang kian berseberangan terkait konflik Iran, penggunaan narasi religius, dan legitimasi moral di panggung internasional. (*)
Editor: Yulian Saputra





