Perbankan

Tren Likuiditas Perbankan Belum Berakhir, Analis Bilang Begini

Jakarta – Industri perbankan pada tahun ini sedang menghadapi tantangan dari sisi pengetatan likuiditas yang memicu perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit.

Beberapa bank dengan kapitalisasi pasar jumbo pada kinerja keuangan tahun 2024 tercatat mengalami peningkatan rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR), bahkan melebihi batas ideal yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) di rentang 78-92 persen.

Hal itu terlihat dari LDR BCA di posisi 78,4 persen, BRI tercatat 87,76 persen, BNI 96,1 persen, dan Bank Mandiri 98,04 persen di sepanjang 2024.

Baca juga: Bos BRI Ungkap Tantangan di 2025, Likuiditas Masih Ketat

Senior Investment Information Mirae Asset, Adityo Nugroho, mengatakan bahwa salah satu hal yang dapat mendukung likuiditas perbankan kembali ke level yang ideal adalah penurunan minat dari instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Jadi mudah-mudahan nanti kalau penurunan dari SRBI ini bisa kembali membantu likuiditas perbankan Indonesia dan juga bisa kembali menggerakkan ekonomi Indonesia,” ucap Adityo dalam Media Day di Jakarta, 13 Februari 2025.

Di mana, penurunan minat terhadap SRBI itu dipicu oleh suku bunga acuan BI yang dipangkas 25 bps menjadi 5,75 persen pada periode Januari 2025.

Baca juga: Likuiditas jadi Tantangan, Bank Mandiri Dorong Pertumbuhan Kredit Lewat Cara Ini

Adapun, posisi SRBI hingga Januari 2025 dari sisi asing atau non resident tercatat stabil di kisaran 27 persen, sementara untuk bank masih cukup besar dengan porsi sebanyak 63 persen.

Sebagai informasi, instrumen SRBI yang diperkenalkan pada Agustus 2023 yang lalu, bertujuan untuk membantu stabilisasi rupiah dengan memberikan tingkat bunga yang atraktif bahkan lebih tinggi dari Surat Berharga Negara (SBN). (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

OJK: 53 Penawaran Umum dalam Pipeline, 15 di Antaranya Siap IPO

Poin Penting OJK mencatat 53 rencana penawaran umum hingga Maret 2026, dengan 15 perusahaan di… Read More

13 mins ago

Marak Joki Coretax di Medsos, Begini Tanggapan Menkeu Purbaya

Poin Penting Marak jasa joki Coretax di media sosial dengan tarif Rp50–100 ribu, memanfaatkan kesulitan… Read More

2 hours ago

Universal Banking di Depan Mata, OJK Soroti Tantangan Kesiapan IT Industri Perbankan

Poin Penting OJK kaji universal banking, yakni integrasi layanan keuangan (perbankan, asuransi, investasi, fintech) dalam… Read More

3 hours ago

IHSG Dibuka Rebound, Balik Lagi ke Level 7.000

Poin Penting IHSG dibuka menguat 0,19 persen ke level 7.002,69 pada awal perdagangan, berbalik dari… Read More

3 hours ago

Update Harga Emas Hari Ini (7/4): Antam, Galeri24, dan UBS Turun Berjamaah

Poin Penting Harga emas di Pegadaian kompak turun pada 7 April 2026 setelah sebelumnya stabil… Read More

3 hours ago

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Tembus Level Rp17.076

Poin Penting Rupiah hari ini dibuka melemah ke Rp17.076 per dolar AS (turun 0,24 persen… Read More

3 hours ago