Transisi ke EBT, Konsumen Tegangan Tinggi (KTT) Additional Demand Melonjak

Transisi ke EBT, Konsumen Tegangan Tinggi (KTT) Additional Demand Melonjak

Transisi ke EBT, Konsumen Tegangan Tinggi (KTT) Additional Demand Melonjak
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Untuk mendukung dinamika transisi energi ke energi baru terbarukan (EBT), Indonesia memutuskan untuk melarang ekspor nikel mentah ke ekspor nikel yang memiliki nilai tambah, sehingga investasi untuk nikel saat ini melonjak tinggi.

Direktur Utama PT PLN Persero Tbk, Darmawan Prasodjo, mengatakan bahwa dengan adanya hal itu terjadi konsumen tegangan tinggi (KTT) additional demand yang melonjak di luar prediksi dari rencana penyediaan tenaga listrik. Ia pun menuturkan, ada sebanyak 155 pelanggan KTT dengan estimasi sekitar 28 gigawatt.  

“Ada banyak sekali yang daftar, nanti ternyata investasinya tidak terealisasi kalau ini kami penuhi semua, kami bangun pembangkit berdasarkan ini, kami bangun gardu induk berdasarkan ini, kami bangun transmisi berdasarkan ini ternyata tuteko sing tuku ra teko-teko,” ucap Darmawan dalam Indonesia Economic Outlook 2023 oleh PT SMI di Jakarta, Selasa, 20 Desember 2022.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa KTT additional demand tersebut memerlukan dana sekitar Rp300 triliun. Jika hal tersebut dilakukan tanpa melihat risiko ke depannya akan menyebabkan pembangunan pembangkit, gardu induk, dan transmisinya menjadi stranded asset yang tidak memiliki konsumen.

“Inilah kita sebut dengan high risk dengan scenario high demand, kemudian kalau kita bangun lagi high medium risk maka tinggal 18 gigawatt, medium risk 8 gigawatt, low risk tinggal 1,7 giga watt,” imbuhnya.

Ia sangat mewanti-wanti hal ini, karena hal tersebut telah terjadi di tahun 2014-2015 dimana terjadi miss prediction demand listrik untuk tahun ini yang seharusnya terealisasi sebesar 420 terawatt, faktanya hanya terealisasi sekitar 270 terawatt.

Meski begitu, Darmawan menjelaskan bahwa belajar dari pengalaman tersebut perlu adanya dokumen yang berbasis pada analisis risiko sesuai fakta saat ini, agar penambahan demand tersebut membawa dampak positif dan keuntungan untuk EBT ke depannya.

“Ini kita sedang melakukan kalibrasi, penambahan konsumennya seperti apa dan ini pertanda bahwa ekonomi Indonesia is not getting wigger, Indonesia is getting stronger adalah good problem, penambahan demand apapun ini adalah suatu permasalahan dampak positif bagi kita untuk itu menjadi suatu opportunity bagi kita untuk mengakselerasi pembangunan renewable energi,” ujar Darmawan. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]