Keuangan

Tingkat Wanprestasi P2P Melonjak, Penguatan Manajemen Risiko Perlu Ditingkatkan

Jakarta – Indonesia Fintech Society (IFSOC) mencatat pada Oktober 2022 jumlah penyaluran dana melalui peer to peer (P2P) lending mencapai Rp18,7 triliun. Namun, dalam periode yang sama nilai tingkat wanprestasi pengembalian yang melebih waktu 90 hari sejak jatuh tempo (TWP90) menyentuh angka tertinggi sekitar Rp1,49 triliun yang sebelumnya sebesar Rp521 miliar.

Ekonom Senior sekaligus Steering Comittee IFSOC Hendri Saparini mengatakan, diperlukan penguatan manajemen risiko secara kontinyu untuk menjaga kualitas pinjaman. Karena adanya kebutuhan dari P2P lending yang sehat untuk mendorong inklusi keuangan dengan struktur ekonomi dan pelaku usaha yang sebagian besar adalah UMKM.

“Tapi di sisi yang lain kita juga tahu bahwa selama tahun 2022 itu ada pengaduan, kalau kita lihat dibandingkan dengan tahun sebelumnya pengaduannya porsinya terus meningkat. Di tahun 2021 hanya 18%, sementara tahun 2022 tahun berjalan sudah sebesar 19% – 20%,” ujar Hendri, Selasa, 27 Desember 2022.

Lebih lanjut, ditambah dengan adanya isu tentang banyaknya penutupan pinjol (pinjaman online) ilegal, meskipun sudah menurun tetapi ini masih menjadi prioritas utama dalam mengembangkan P2P lending untuk memberikan kepercayaan kepada masyarakat.

“Selain meningkatkan trust penggunaan layanan P2P lending, kedepannya dibutuhkan kolaborasi lebih dalam dengan sektor jasa keuangan lainnya (BPR & BPD) dalam hal peningkatan kualitas risiko kredit dan peningkatan literasi masyarakat, sehingga mewujudkan sektor P2P lending yang lebih resilience dan inklusif,” jelas Hendri.

Menurutnya, dengan adanya penerbitan POJK 10/2022 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi (LPBBTI)/P2P Lending, dapat menjadi salah satu katalis pertumbuhan penyaluran P2P lending karena telah memberikan pedoman bagi pelaku layanan LPBBTI.

“Kita meyakini ini akan menjadi salah satu katalis untuk pertumbuhan P2P lending karena disitu ada guideline-nya. Adanya isu tentang P2P lending yang ada kemudian dijawab dengan adanya POJK 10/2022 ini adalah salah satu catatan yang penting,” ungkapnya. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Irawati

Recent Posts

Bank BPD Bali Sudah Setor Dividen Rp826 Miliar ke Pemda

Poin Penting Bank BPD Bali mendistribusikan 75 persen laba atau Rp826 miliar dari total keuntungan… Read More

14 hours ago

Rekomendasi 5 Aplikasi Nabung Emas yang Aman dan Praktis

Poin Penting Kini menabung emas bisa dilakukan di aplikasi emas yang menawarkan transaksi yang aman… Read More

15 hours ago

Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Begini Respons Pemerintah

Poin Penting Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan tarif resiprokal Donald Trump, pemerintah Indonesia mencermati dampaknya… Read More

19 hours ago

Investasi Reksa Dana BNI AM Kini Bisa Dibeli di Kantor Cabang KB Bank

Poin Penting PT Bank KB Indonesia Tbk menggandeng PT BNI Asset Management memasarkan reksa dana… Read More

19 hours ago

Kadin Gandeng US-ABC Perluas Ekspor Alas Kaki ke AS

Poin Penting Kamar Dagang dan Industri Indonesia teken MoA dengan US-ASEAN Business Council untuk perluas… Read More

23 hours ago

Alasan Mahkamah Agung AS “Jegal” Kebijakan Tarif Trump

Poin Penting Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan tarif resiprokal global Donald Trump karena dinilai melanggar… Read More

1 day ago