Poin Penting
- Pertamina Lubricants memastikan stok oli domestik aman meski konflik AS-Israel vs Iran berpotensi memicu kenaikan harga minyak.
- Produksi lubrikan lokal, seperti mineral dari Cilacap dan sintetik unggul dari Dumai, kurangi ketergantungan impor dan jadi keunggulan kompetitif.
- Ekspor ke 17 negara didukung R&D di Lubricant Technology Center, sambil terus evaluasi supply chain agar tetap stabil di tengah gejolak geopolitik.
Jakarta – Gejolak geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran saat ini sedang menjadi sorotan banyak pihak. Konflik geopolitik yang ada berpotensi membuat harga minyak melambung tinggi, yang mana, hal itu berpotensi menciptakan inflasi pada sejumlah komoditas, termasuk produk yang berbahan dasar minyak atau oil.
Menyikapi kondisi tersebut, VP Marketing PT Pertamina Lubricants, Nugroho Setyo Utomo menyatakan, pihaknya masih melihat perkembangan situasi yang ada. Ia pun menekankan bila pihaknya tetap akan memastikan keamanan ketersediaan stok lubrikan atau oli domestik.
“Yang pasti kita commit berupaya untuk menjaga stok di domestik itu aman, tapi yang lain-lain kita masih sama-sama lihat,” ucap Nugroho saat ditemui dalam acara konferensi pers Program Ramadhan Idul Fitri (RAFI) 2026 di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Baca juga: Dukung Kemajuan Industri Oil & Gas, BRI Fasilitasi Pertamina Lubricants
Lebih lanjut, Nugroho mengungkapkan, banyak produk lubrikan Pertamina yang berasal dari produsen lokal, seperti bahan dasar lubrikan mineral dari Cilacap dan sintetik dari Dumai (Riau). Membuat Pertamina Lubricants tidak terlalu bergantung pada produk impor dari Timur Tengah.
“Sintetik salah satu yang the best itu dari Dumai. Jadi, kalau sintetik itu ada namanya grup 3. Yang Dumai itu grup 3 plus, di atasnya (grup 3). Jadi, sebenarnya kita punya keunggulan kompetitif itu, terutama di pelumas sintetik,” jelas Nugroho.
Sementara untuk pangsa ekspor, ia mengatakan bahwa semuanya masih bergantung pada kondisi di lapangan. Saat ini, Pertamina Lubricants telah mengekspor produk lubrikannya ke 17 negara di dunia. Yang mana salah satunya ialah Yaman.
Dengan adanya konflik di Timur Tengah ini, ia mengatakan, pihaknya tetap menjaga hubungan dagang dengan Yaman. Mengingat, Yaman adalah salah satu negara potensial pengimpor lubrikan dari Indonesia.
“Karena sebelum perang, Yaman cukup potensial. Kami pernah dua kali menang tender di PLN-nya Yaman. Sekali pengiriman Itu 15 container pada 2013. Jadi, kita ikut tender di sana, kita menang, mereka inspeksi ke sini,” ungkapnya.
Baca juga: Harga BBM Pertamina Naik per 1 Maret 2026, Ini Daftar Lengkapnya
Nugroho membeberkan, lumayan banyaknya mitra dagang dari negara lain tak bisa dipisahkan dari adanya Lubricant Technology Center sebagai tempat research and development (R&D) yang dimiliki Pertamina Lubricants di Indonesia.
Ini menjadikan produk oli Pertamina Lubricants lebih terpercaya di pasar global. Nugroho menjelaskan, pangsa ekspor terbesar Pertamina Lubricants saat ini ialah Australia. Selain itu, Pertamina Lubricants juga mempunyai fasilitas pabrik di Tailan, yang turut menjadi fokus pasar Pertamina Lubricants di Asia Tenggara.
Pasar ekspor produk lubrikan Pertamina ini bahkan telah sampai ke benua Afrika, yakni Afrika Selatan dan Nigeria. Di samping itu, ada pula Jepang yang memiliki global partnership, dimana pangsa pasar produk lubrikan dari Pertamina Lubricants terus bertumbuh dalam dua tahun terakhir.
Melihat dinamika geopolitik saat ini, pihaknya akan terus melakukan evaluasi untuk menjamin supply chain tetap stabil.
“Harapan kita (supply chain) jangan sampai terganggu. Walaupun mungkin (jalur) pelayaran pasti akan ada adjustment. Seperti waktu Covid, transportasi laut kan sebelum dan setelah Covid agak sedikit berbeda ya,” pungkas Nugroho. Steven Widjaja










