Perbankan

Tidak Sesuai Zaman, Perbarindo Harap UU Perbankan Direvisi

Jakarta – Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo), Joko Suyanto berharap, Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 dapat segera di revisi karena dirasa membatasi ruang gerak bank perkreditan rakyat (BPR) dan sudah tak sesuai dengan perkembangan zaman.

“Kami nengusulkan agar kiranya Undang-Undang Nomor 10 nanti bisa memasukan usulan dari BPR agar BPR ini diberikan ruang. Satu, mengenai jenis usaha yang equal dengan bank umum, tidak sama dengan bank umum, tapi sekurang-kurangnya di era digital ini harusnya sudah equal,” katanya dalam Seminar Bisnis BPR & Top 100 BPR 2022 dengan tema ‘Potensi dan Peluang BPR Go Digital dan Tren BPR Go Digital’, di Hotel Discovery, Ancol, Jakarta, Jumat, 17 Juni 2022.

Menurut Joko, isi dari UU tersebut belum menerapkan implementasi teknologi karena pada pembuatan UU itu, memang perkembangan teknologi belum se-massif seperti saat ini.

“Karena pengadaan UU di tempo dulu, itu adalah UU yang belum mengimplementasikan teknologi. Karena dengan teknologi sudah borderless, jadi tidak ada lagi pembatasan. Kedua, harapan besarnya bagaimana kita diberi ruang, kesempatan, untuk kita jadi BPR yang go public,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, go public atau initial public offering (IPO) menjadi dambaan bagi industri BPR, salah satunya sebagai upaya dalam meningkatkan permodalan. Ada sejumlah keuntungan jika BPR go public, antara lain mendapatkan insentif pajak, meningkatkan nilai perusahaan, meningkatkan market awareness, menumbuhkan loyalitas karyawan, akses pada pendanan baru, dan meningkatkan good corporate governance (GCG).

Selain keuntungan, lanjut Joko, adapula sejumlah tantangan yang harus diperhatikan BPR ketika akan go public, yaitu delusi dan kontrol atas kepemilikan, transparansi dan pelaporan harus dilakukan secara profesional, biaya-biaya yang terkait dengan pasar modal, market pressure, serta regulasi dan pemenuhannya.

“Itu tantangan. Regulasi dan penggunaannya, di tambah lagi apa bila sekarang sudah jelimet nanti akan makin jelimet lagi ketika kita IPO,” tukasnya. (*) Bagus Kasanjanu

 

Evan Yulian

Recent Posts

KPK, Ilusi Kerugian Negara, dan Bahaya “Narasi Paksa” dalam Kasus Dana Nonbujeter Bank BJB

Oleh The Finance Team MASIHKAH Indonesia berlandaskan hukum? Pertanyaan itu kembali muncul dalam setiap diskusi… Read More

3 hours ago

Apakah Benar AS Keluar dari PBB? Cek Faktanya Berikut Ini

Poin Penting Kabar AS keluar dari PBB memicu tanda tanya publik, mengingat AS merupakan salah… Read More

7 hours ago

Kasus Dugaan Penipuan Kripto Jadi Sorotan, Polda Metro Jaya Turun Tangan

Poin Penting Investasi kripto kembali menjadi sorotan setelah adanya laporan dugaan penipuan yang dilayangkan ke… Read More

7 hours ago

4 WNI Dilaporkan Diculik Bajak Laut di Perairan Gabon Afrika

Poin Penting Kapal ikan IB FISH 7 diserang bajak laut di perairan Gabon, sembilan awak… Read More

8 hours ago

Pakar Apresiasi Peran Pertamina Capai Target Lifting Minyak APBN 2025

Poin Penting Produksi minyak Pertamina berhasil mencapai target APBN 2025 sebesar 605.000 barel per hari.… Read More

9 hours ago

Properti RI Berpeluang Booming Lagi pada 2026, Apa Penyebabnya?

Poin Penting Pertumbuhan ekonomi 2026 diproyeksikan naik hingga 5,5%, menjadi momentum kebangkitan sektor properti. Dengan… Read More

10 hours ago