Poin Penting
- Rupiah dibuka melemah ke Rp18.076 per dolar AS.
- The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen.
- Sinyal hawkish The Fed berpotensi menjaga dolar AS dan yield Treasury tetap tinggi.
Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini, Kamis (30/7/2026). Rupiah dibuka di level Rp18.076 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,02 persen dibandingkan penutupan kemarin di Rp18.073 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, Federal Reserve (The Fed) mempertahankan Fed Funds Rate (FFR) di kisaran 3,50–3,75 persen dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juli 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Menurutnya, bank sentral AS menilai fundamental ekonomi Negeri Paman Sam masih kuat meski ketidakpastian global tetap tinggi, yang antara lain dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
“Meskipun The Fed mempertahankan suku bunga acuan, hasil rapat memberikan sinyal yang lebih hawkish,” kata Andry, Kamis, 30 Juli 2026.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Sinyal Hawkish Kian Menguat
Ia menambahkan, meningkatnya dukungan internal terhadap pengetatan kebijakan menunjukkan bahwa kebijakan moneter AS berpotensi tetap ketat dalam jangka waktu yang lebih lama.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga September Meningkat
Selain itu, rapat FOMC kali ini menandai pergeseran menuju strategi komunikasi yang lebih bergantung pada data ekonomi (data-dependent), seiring semakin berkurangnya penggunaan forward guidance.
“Sehingga data inflasi dan pasar tenaga kerja yang akan dirilis menjelang rapat FOMC bulan September menjadi semakin penting,” imbuhnya.
Baca juga: Fitch Soroti Dampak Pengunduran Diri Gubernur BI terhadap Rupiah-Utang Pemerintah
Selanjutnya, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada rapat FOMC September meningkat menjadi sekitar 72 persen setelah hasil rapat diumumkan.
Andry menambahkan, perkembangan ini diperkirakan akan menjaga imbal hasil (yield) US Treasury dan nilai tukar dolar AS tetap tinggi, sekaligus mempertahankan tekanan terhadap aset-aset pasar berkembang (emerging markets), termasuk nilai tukar rupiah dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. (*)
Editor: Yulian Saputra


