Poin Penting
- Fitur leverage memungkinkan transaksi lebih besar dari modal, tetapi juga memperbesar potensi kerugian secara signifikan
- Penggunaan leverage harus proporsional, disertai pengaturan position sizing dan fitur stop loss untuk membatasi kerugian
- Kesalahan umum trader pemula adalah cenderung memakai leverage tinggi demi profit cepat, padahal strategi jangka panjang justru mengutamakan disiplin dan leverage rendah.
Jakarta – Investor maupun trader tentu tidak asing dengan fitur leverage dalam aktivitas trading, misalnya di pasar foreign exchange (forex) dan contracts for difference (CFD).
Fitur leverage menjadi menarik karena menawarkan peluang meraup keuntungan melebih kapasitas modal yang tersedia. Namun, leverage juga membawa risiko besar. Maka itu trader diingatkan untuk bijak dalam menggunakan fitur leverage.
Menurut platform media finansial Invesnesia, pemahaman mengenai prinsip penggunaan leverage menjadi salah satu aspek penting dalam membangun strategi trading berkelanjutan, terutama bagi trader yang baru memasuki pasar keuangan global.
Dalam praktiknya, leverage memungkinkan trader untuk membuka posisi trading yang lebih besar dibandingkan dengan modal yang mereka miliki. Dengan leverage, trader bisa mengontrol nilai transaksi yang lebih besar dengan dana yang relatif kecil.
Baca juga: Melonjak 96 Persen, Transaksi di ICDX Tembus Rp12.477 T pada Kuartal I 2026
Tapi, karakteristik leverage yang memperbesar potensi keuntungan secara langsung juga memperbesar potensi kerugian.
“Leverage pada dasarnya adalah alat. Jika digunakan dengan disiplin dan pemahaman yang baik, leverage dapat membantu trader mengoptimalkan penggunaan modal. Namun tanpa manajemen risiko yang tepat, leverage justru dapat memperbesar kerugian dalam waktu singkat,” jelas Alfatur, Head of Research Invesnesia dalam keterangan resmi, Sabtu, 4 April 2026.
Ia melanjutkan, beberapa tahun terakhir, akses terhadap platform trading global mengalami peningkatan. Semakin banyak investor ritel yang berminat mencoba berbagai instrumen trading, mulai dari forex, saham internasional, cryptocurrency, hingga komoditas seperti emas.
Kemudahan akses membuat penggunaan leverage menjadi semakin umum di kalangan trader ritel. Namun demikian, Invesnesia menilai bahwa tidak semua trader memiliki pemahaman memadai mengenai cara kerja leverage dan implikasi risikonya.
Salah satu prinsip dasar yang sering ditekankan pelaku pasar berpengalaman adalah penggunaan leverage yang proporsional dengan ukuran modal. Banyak trader profesional justru memilih menggunakan leverage yang relatif rendah sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko jangka panjang.
Selain itu, pengaturan ukuran posisi (position sizing) juga menjadi bagian penting dalam penggunaan leverage. Dengan mengatur ukuran transaksi secara disiplin, trader dapat menjaga eksposur risiko agar tetap berada dalam batas yang terukur.
Pemanfaatan fitur manajemen risiko seperti stop loss juga menjadi praktik umum dalam aktivitas trading profesional. Fitur ini membuat trader bisa menetapkan batas kerugian yang dapat diterima sebelum posisi trading ditutup secara otomatis oleh sistem.
Baca juga: Pasar Kripto Bergejolak, CACI Jamin Likuiditas dan Transaksi Investor Aman
Menurut Invesnesia, salah satu kesalahan yang sering terjadi pada trader pemula adalah menggunakan leverage terlalu besar dengan harapan memperoleh keuntungan dalam waktu singkat. Kondisi ini kerap kali membuat trader lebih rentan terhadap volatilitas pasar.
Di tengah dinamika pasar global yang semakin dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi seperti inflasi, kebijakan suku bunga bank sentral, serta perkembangan geopolitik internasional, pendekatan trading yang disiplin sangatlah penting. (*) Ari Astriawan










