Poin Penting
- Tensi geopolitik global meningkat setelah AS melakukan operasi militer ke Venezuela dan menangkap mantan Presiden Nicolas Maduro
- Dampak ke pasar keuangan Indonesia berpotensi negatif dalam jangka pendek, dengan saham dan obligasi rawan terkoreksi
- Risiko efek domino geopolitik mengemuka, termasuk potensi respons Tiongkok terkait Taiwan dan keterlibatan Jepang-AS, yang dapat menambah tekanan inflasi global dan volatilitas pasar.
Jakarta – Pada awal 2026 tensi geopolitik kembali memanas. Ini dipicu oleh tindakan Amerika Serikat (AS) yang melakukan operasi militer besar ke Venezuela dan melakukan penangkapan terhadap Mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro bersama dengan istrinya.
Tindakan AS tersebut antara lain, didorong berbagai dakwaan seperti konspirasi narkoterorisme, konspirasi impor kokain, hingga konspirasi untuk memiliki senapan mesin dan alat perusak.
AS menyebut akan menjalankan negara Venezuela untuk sementara waktu hingga dapat melakukan transisi pemerintahan yang aman, tepat, dan bijaksana.
Tak hanya itu, AS juga akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika untuk masuk dan menghabiskan miliar dolar, untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak parah dan mulai menghasilkan uang untuk Venezuela.
Namun, hal tersebut menimbulkan reaksi internasional yang mengutuk tindakan AS sebagai pelanggaran kedaulatan dan berisiko memperburuk stabilitas regional.
Baca juga: Rupiah Diramal Melemah Imbas Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Pilarmas Investindo Sekuritas menyoroti dampak tensi geopolitik tersebut terhadap pasar keuangan Indonesia.
Menurut analis Pilarmas, pasar saham dan obligasi berpotensi rawan terkoreksi atas kejadian tersebut, meskipun pelaku pasar dan investor cenderung wait and see pada perdagangan hari ini.
Di sisi lain, keadaan tersebut juga menarik perhatian Tiongkok yang merupakan pelanggan terbesar pembelian minyak dari Venezuela, di mana pembelian tersebut mewakili sekitar 95 persen pendapatan Venezuela.
“Kami melihat saham berbasis harga minyak akan mengalami kenaikkan, meskipun Venezuela tidak masuk ke dalam 20 terbesar produsen minyak mentah. Hal ini tentu saja akan memberikan potensi tekanan inflasi khususnya dan akan menimbulkan risiko bagi pasar,” tulis analis Pilarmas dalam risetnya di Jakarta, 5 Januari 2025.
Analis Pilarmas juga melihat tindakan operasi militer AS ke Venezuela juga dapat menimbulkan efek domino. Tiongkok berpotensi melakukan tindakan seperti AS kepada Taiwan.
Meski demikian, Jepang nantinya juga tidak akan tinggal diam seperti yang disampaikan beberapa waktu lalu. Ketika Jepang memutuskan untuk membantu, maka AS sebagai sekutu terdekat Jepang dan Taiwan akan membantu di sisi mereka untuk memberikan kemerdekaan terhadap Taiwan.
Di sisi lain, tensi geopolitik antara AS dan Venezuela diproyeksi akan membawa “berkah” bagi emas. Dari kejadian tersebut, diyakini harga emas diramal akan mengalami kenaikan.
Baca juga: Bos BEI Bidik Pasar Modal Indonesia Masuk Top 10 Bursa Dunia
Pembukaan Perdagangan IHSG dan Harga Emas Hari Ini
Sebagai informasi, untuk pasar saham pada pembukaan perdagangan hari ini pukul 09.00 WIB Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka menguat ke level 8.776,43 dari level 8.748,13 atau naik 0,32 persen.
Selain itu, IHSG hingga pukul 11:43 WIB kembali tercatat menyentuh All Time High (ATH) terbarunya di posisi 8.816,14.
Sedangkan dari sisi, harga emas untuk produk Galeri24 dan UBS yang diperdagangkan pada Senin, 5 Januari 2026, tercatat stagnan. Begitu juga dengan harga emas Antam yang tak bergerak di awal pekan ini.
Berdasarkan laman Sahabat Pegadaian, harga jual emas Galeri24 masih sama seperti kemarin di level Rp2.522.000 per gram. Lalu, untuk harga emas UBS juga stagnan dengan berada di di level Rp2.559.000.
Hal serupa juga terjadi pada harga emas Antam 1 gram yang dibanderol Rp2.737.000, juga tidak bergerak dibandingkan harga jual kemarin Rp2.737.000 per gram. (*)
Editor: Galih Pratama










