Teknologi SCR di PLTU Jawa 9&10 Jadi Opsi Turunkan Emisi Pembangkit

Teknologi SCR di PLTU Jawa 9&10 Jadi Opsi Turunkan Emisi Pembangkit

Teknologi SCR di PLTU Jawa 9&10 Jadi Opsi Turunkan Emisi Pembangkit
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Bali – Teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR) dan penggunaan energi primer green amonia, menjadi salah satu opsi yang kini tengah dikembangkan untuk menurunkan emisi karbon pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Teknologi yang punya potensi untuk digunakan pada sejumlah PLTU ini, merupakan bagian dari upaya untuk dekarbonisasi yang ditimbulkan dari pembakaran batu bara.

Dengan alasan inilah PT Prima Layanan Nasional Enjiniring dengan PT Indo Raya Tenaga (IRT) sepakat untuk menjalin MOU Join Study co-firing of 60% Green Amonia at SCR-equipped USC Power Plant of Jawa 9&10. Adapun lenandatanganan kesepakatan ini dilakukan di sela-sela rangkaian B20 di Nusa Dua Bali, Senin, 14 November 2022.

Hartarto Wibowo, Direktur Coorporate Planing & Business Development PLN menuturkan, kerjasama antara PLN Enjiniring, anak usaha PLN dengan IRT sebagai pengambang PLTU Jawa 9&10 ini ditujukan untuk kemungkinan penggunaan energi primer green amonia sebagai bahan bakar PLTU sebanyak 60% karena Jawa 9&10 sudah dilengkapi teknologi SCR.

“Kami harap studinya menghasilkan sesuau yang luar biasa. Dan ini akan menjadi cara kita agar coal power plant pun akan lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, feasibility study yang dijalankan bisa rampung dalam waktu tiga bulan ke depan. Setelah itu hasilnya bisa dipresentasikan ke Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya (ESDM). “Ini semua untuk hidup yang lebih renewable,” ucapnya.

Di kesempatan yang sama, Direktur Jenderal EBTKE Dadan Kusdiana mengatakan, sejauh ini sudah ada upaya keras baik dari pemerintah maupun PLN dalam melakukan dekarbonisasi untuk PLTU. Apa yang dilakukan pengelola PLTU Jawa 9&10 dengan teknologi SCR yang menggunakan ‘green ammonia’ menjadi satu opsi yang  dikaji serius. Ia pun berharap, kajian ini juga tidak lama dilakukan.

“Tak ada yang salah dengan batubara, karena sebagai produk ia bermanfaat. Hal yang kita hindari adalah batubara itu kan ujungnya ada C02. Karena itu kita harus cari cara bagaimana agar emisinya bisa berkurang atau terserap,” ungkapnya.

Lebih lanjut kata dia, jalan yang paling praktis mungkin bisa dilakukan dengan mengganti PLTU batubara. “Tapi kan ada aset dan segala nilai keekonomian. Makanya kita berfikir jalan dekarbonisasi. Kalau (MoU) ini mengarah ke hidrogen dan amona, saya pikir ini jalan yang smart,” tuturnya

Dadan menegaskan, saat ini pemerintah tengah aktif mendorong berbagai upaya dan kajian untuk menjalankan kebijakan nol emisi karbon atau Net Zero Emissions (NZE). “Seluruh alternatif kita jalani, arahnya bagaimana caranya kita meredam CO2. Ujungnya tidak ada CO2 yang keluar,” tambah Dadan. 

Sekadar informasi, Indonesia memang tengah gencar mempromosikan transisi energi terbarukan. Apabila pengelolaan dan keberlangsungan sumbernya tersedia, maka ammonia biru dan hijau dapat menjadi salah satu bagian dari perjalanan menuju transisi energi terbarukan, sebagai sumber energi bersih alternatif bagi pembangkit tenaga uap batu bara.

Pembakaran ammonia di dalam tungku uap, tidak akan menghasilkan emisi karbon, namun pembakaran tersebut tetap mengeluarkan emisi gas rumah kaca berupa nitrogen oksida. Sebagai jawabannya, Selective Catalytic Reduction (SCR) adalah teknologi yang sudah terbukti untuk menurunkan nitrogen oksida dan nitrogen dioksid, dengan mengkonversikan molekulnya menjadi air dan nitrogen bebas.

Dengan menggunakan CSR pada PLTU, bersamaan dengan low Nox burner akan secara signifikan menurunkan kadar nitrogen oksida dan nitrogen dioksida. Oleh karena itu akan membuka kemungkinan co-firing jauh lebih banyak amonia hijau dibandingkan batu bara di dalam pembangkit tenaga uap batu bara.

Untuk diketahui, PLTU Jawa 9 & 10 adalah pembangkit Ultra Super Critical sebagai satu-satunya pembangkit di Indonesia. PLTU ini memasang peralatan pengontrol emisi terlengkap dengan adanya Flue Gas Desulfurization, Electro-Static Precipitator, Low NOx burner dan Selective Catalytic Reduction.

“Mengapa kami mau pakai SCR, karena kami mau berbeda dengan yang lain. Jadi PLTU yang menggunakan teknologi Ultra Super-Critical USC dan juga SCR ya, Cuma satu yakni PLTU Jawa 9 dan 10,” kata Presiden Direktur PT Indo Raya Tenaga Peter Wijaya di kesempatan sama.

Dengan studi bersama ini, IRT, kata Peter, Jawa 9 &10 nantinya akan siap untuk co-firing ammonia hijau yang signifikan pada saat dan jika arahan PLN tentang sumber bahan bakar alternatif tersebut tersedia di masa mendatang. “Target kami adalah siap, jadi apabila PLN ingin mentransisikan energi batubara ke green ammonia, PLTU ini sudah siap,” imbuhnya. 

Sebagai pembangkit satu-satunya di Indonesia yang sedang dilengkapi dengan Selective Catalytic Reduction, Jawa 9 &10 melakukan studi bersama dengan PLNE dalam rangka kemungkinan co-firing 60% ammonia hijau dengan 40% batu bara.

PLTU Jawa 9 & 10 sendiri didanai dengan skema project finance sejak November 2020 dan disponsori 51% oleh grup PLN Indonesia Power, 34% oleh grup Barito Pacific, dan15% oleh grup Kepco. Proyek BOOT ini dibuat bankable lewat PPA 25 tahun yang tidak memerlukan jaminan pemerintah. Pada bulan Oktober 2022, Jawa 9 & 10 sudah mencapai tingkat EPC 81% dan diharap akan komisioning pada kuartal terakhir tahun 2024 dan akan COD di kuartal kedua tahun 2025. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]