Teknologi Digital Tak Terelakkan di Bidang Finansial

Teknologi Digital Tak Terelakkan di Bidang Finansial

Teknologi Digital Tak Terelakkan di Bidang Finansial
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Di era yang serba canggih seperti saat ini, ruang untuk manualisasi semakin menipis. Proses manual yang membutuhkan tenaga banyak, kini digantikan oleh hanya sentuhan jari. Segala sektor, tanpa terkecuali perbankan, berlomba-lomba menghadirkan layanan yang hanya berlandaskan sentuhan jari tersebut.

Tren bank digital atau neo bank pun makin keras saja gaungnya, meskipun dari sisi kinerja belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Namun demikian, tren digitalisasi pada industri perbankan tetaplah menjadi bola salju yang terus bergulir kencang dan makin tebal setiap kali ia berguling. Hal tersebut tidaklah mengherankan. Studi dari Google, Bain dan Temasek mencatat bahwa di Indonesia, ada 21 juta konsumen digital baru selama pandemi pada tahun 2020 dan paruh pertama tahun 2021. Para konsumen digital baru ini diprediksi akan menetap, di mana 96% konsumen saat ini telah menggunakan layanan digital dan 99% konsumen berencana akan terus menggunakan layanan digital.

Tren layanan finansial berbasis digital pun naik secara pesat. Hal tersebut tidaklah mengherankan. Studi dari Google, Bain dan Temasek mencatat bahwa di Indonesia, ada 21 juta konsumen digital baru selama pandemi pada tahun 2020 dan paruh pertama tahun 2021. Para konsumen digital baru ini diprediksi akan menetap, di mana 96% konsumen saat ini telah menggunakan layanan digital dan 99% konsumen berencana akan terus menggunakan layanan digital. 

Salah satu layanan digital  dari Standard Chartered yang inovatif adalah Standard Chartered nexus. Standard Chartered nexus adalah sistem yang membuat digital platforms seperti e-commerce, sosial media, atau ride hailing dapat menyediakan layanan pinjaman, kartu kredit, dan akun tabungan yang dibuat dan dioperasikan oleh Standard Chartered untuk konsumen. Namun, semua fitur perbankan tersebut tetap berada di bawah nama brand platform digital tersebut. Konsep ini dinamakan Banking-as-a-service, yang mana layanan perbankan tidak hanya ditujukan ke nasabah langsung tapi juga dijadikan layanan untuk mitra dalam meningkatkan penawaran layanan makin holistik di platform mereka.

Standard Chartered nexus yang dirilis di tahun 2020 ini telah menggandeng dua platform digital besar Tanah Air, yakni Bukalapak dan Sociolla. Kedua mitra tersebut kini sedang bekerja sama dengan Standard Chartered untuk meluncurkan layanan perbankan digital di platform mereka masing-masing

Di samping itu, Standard Chartered Indonesia juga telah merilis sistem pembayaran Straight to Bank Pay (S2B Pay) untuk membantu korporasi mendigitalisasi proses pengumpulan pembayaran dan manajemen kas mereka.

Seiring dengan visi Bank Indonesia untuk mendigitalisasi infrastruktur sistem pembayaran, sistem S2B Pay Standard Chartered membuat korporasi dapat mendigitalisasi proses penarikan uang dengan bank sebagai gerbang digital global tunggal untuk melakukan penagihan dana dengan berbagai metode dan di seluruh saluran penjualan perusahaan, termasuk penjualan online (eCommerce), penjualan melalui aplikasi seluler (mCommerce), pembayaran secara digital saat pengiriman/di dalam toko, tautan pembayaran, penyajian tagihan, dan penagihan berbasis faktur.

Di lini penyaluran kredit melalui jalur digital, Standard Chartered telah bekerja sama dengan Kredivo, platform kredit digital terkemuka dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. kemitraan ini membantu Bank untuk mendorong inklusi keuangan yang lebih besar di masa pemulihan ekonomi akibat dampak pandemi, melalui penyediaan akses layanan kredit yang mudah, serta mendorong pertumbuhan e-commerce dan merchant offline.

Jangkauan peritel yang luas dan kapabilitas penilaian kredit berbasis artificial intelligence Kredivo yang kuat, serta keahlian perbankan ritel Standard Chartered yang mendalam sebagai salah satu bank tertua dengan kehadiran lebih dari 150 tahun di Indonesia  memungkinkan konsumen untuk dapat menikmati proses aplikasi kredit dan pengalaman yang sepenuhnya digital, tanpa persyaratan verifikasi tatap muka.

Tidak hanya dengan menggulirkan layanan-layanan berbasis digital terkini, Standard Chartered juga telah mengimplementasikan teknologi digital canggih seperti robotik,  machine learning, dan big data analytics, untuk mentransformasi model operasi bisnisnya, sehingga lebih efisien dan efektif.   

Implementasi teknologi di belakang layar ini merupakan bentuk transformasi berkelanjutan Bank untuk merespon dinamika dan kebutuhan nasabah yang terus berkembang, khususnya di era digital ini. Masyarakat masa kini menuntut layanan finansial mereka untuk lebih cepat, aman, mudah dan andal. Bahkan menurut survei yang dilakukan Standard Chartered di 2020, 80% orang Indonesia ingin sepenuhnya bertransisi ke cashless di 2025.  Oleh karena itu, layanan operasional bank yang berbasis digital yang mumpuni menjadi keharusan agar bank seperti Standard Chartered dapat terus relevan bagi khalayak publik, serta mampu menumbuhkan usahanya dengan semakin efisien. (*) Steven

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]