Poin Penting:
- IDI Kota Mataram mengingatkan pemberian Susu Formula dalam program MBG berpotensi mengganggu program ASI eksklusif.
- Tenaga medis menilai kandungan ASI tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh susu formula.
- IDI meminta BGN memperjelas sasaran penerima susu formula agar tidak menimbulkan salah persepsi di masyarakat.
Jakarta – Rencana pemberian Susu Formula dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai sorotan dari kalangan tenaga medis. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak mengganggu program pemberian ais susu ibu (ASI) eksklusif yang selama ini terus digencarkan pemerintah dan tenaga kesehatan.
Ketua IDI Kota Mataram dr H Emirald Isfihan mengatakan, pihaknya tidak menolak program pemerintah, namun meminta agar pelaksanaan teknis program MBG dilakukan secara hati-hati agar tidak memunculkan dampak baru di masyarakat.
“Kami bukan berarti menolak tapi memberikan masukan agar sesuai teknis arah pemberian MBG tidak menggagalkan program yang sudah ada selama ini,” kata Emirald di Mataram, dikutip Antara, Kamis (28/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas surat terbuka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pusat kepada Badan Gizi Nasional (BGN) terkait rencana memasukkan susu formula dalam program MBG.
Baca juga: BGN Tegaskan Terbuka terhadap Kritik, Dugaan Penyimpangan MBG Siap Ditindaklanjuti
IDI Soroti Dampak Susu Formula MBG terhadap ASI Eksklusif
Menurut Emirald, kekhawatiran muncul karena pemberian Susu Formula dalam program MBG berpotensi menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa ASI memiliki kandungan yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh susu formula.
“Ada hal-hal atau kandungan ASI yang memang tidak bisa digantikan oleh susu formula,” katanya.
Emirald yang juga menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram menegaskan, IDI mendukung penuh berbagai program pemerintah, termasuk MBG. Namun, implementasi kebijakan tetap harus mempertimbangkan program kesehatan yang telah berjalan, khususnya kampanye ASI eksklusif.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak sampai menganggap susu formula yang dibagikan pemerintah dapat menggantikan fungsi ASI bagi bayi.
“Kondisi itu tentu akan menjadi beban kami ke depannya,” ujarnya.
BGN Diminta Perjelas Sasaran Penerima Susu Formula
IDI Kota Mataram menilai Badan Gizi Nasional perlu memperjelas kelompok penerima susu formula dalam program MBG. Selama ini, program ASI eksklusif disebut terus digencarkan, terutama di Kota Mataram.
Karena itu, Emirald meminta BGN mempertimbangkan berbagai masukan dari IDAI agar implementasi program tetap tepat sasaran dan tidak menimbulkan multi-tafsir di masyarakat.
“Kami berharap, BGN dapat melihat masukan IDAI secara positif dan melakukan untuk menerjemahkan apa yang layak diberikan kepada masyarakat,” katanya.
Menurutnya, pengaturan teknis distribusi Susu Formula harus disusun secara hati-hati agar tidak bertentangan dengan upaya peningkatan kesehatan bayi melalui ASI eksklusif.
Baca juga: MBG Bawa Berkah bagi BUAH, Pendapatan 2025 Tumbuh 47,7 Persen
IDI Siap Berikan Rekomendasi kepada Pemerintah
Terkait pengawasan kebijakan, Emirald menjelaskan bahwa IDI sebagai organisasi profesi tidak memiliki kewenangan langsung untuk melakukan pengawasan teknis terhadap program MBG. Namun, IDI tetap akan memberikan masukan dan rekomendasi kepada pemerintah sebagai bahan evaluasi.
“Kami akan melihat fenomena selanjutnya dan kami akan memberikan rekomendasi. Apa yang dikeluarkan IDAI sebagai bagian dari IDI merupakan rekomendasi untuk dikaji sebelum dilaksanakan,” katanya.
Polemik mengenai Susu Formula dalam program MBG diperkirakan masih akan menjadi perhatian berbagai pihak, terutama terkait upaya menjaga keberlanjutan program ASI eksklusif di Indonesia. (*)
Editor: Galih Pratama


