Poin Penting
- Survei IBM menunjukkan 65 persen CEO di Indonesia percaya menggunakan AI untuk mendukung pengambilan keputusan strategis perusahaan.
- Sebanyak 70 persen organisasi global telah memiliki Chief AI Officer pada 2026, naik tajam dari 17 persen pada 2025.
- IBM memperkirakan 30 persen pekerja di Indonesia perlu reskilling hingga 2028 seiring meningkatnya adopsi AI di dunia kerja.
Jakarta – Perusahaan teknologi global IBM melalui Institute for Business Value (IBV) mengungkapkan percepatan perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mendorong para CEO menata ulang peran direksi dan struktur organisasi perusahaan.
Pergeseran ini terjadi seiring semakin luasnya penggunaan AI dalam pengambilan keputusan dan operasional bisnis.
Dalam studi tahunan IBM CEO Study yang melibatkan 2.000 CEO global, termasuk dari Indonesia, sebanyak 65 persen CEO di Indonesia mengaku nyaman mengambil keputusan strategis berdasarkan masukan yang dihasilkan AI.
Baca juga: IBM: Kedaulatan Digital Jadi Kunci Masa Depan Ekonomi RI
Selain itu, 65 persen responden menilai kedaulatan AI (AI sovereignty) menjadi bagian penting dalam strategi bisnis perusahaan. Lebih lanjut, pemanfaatan AI di perusahaan mulai ditempatkan sebagai fondasi baru dalam model operasional dan pengambilan keputusan.
“Perusahaan yang berhasil adalah mereka yang mengadopsi pendekatan AI-first, bukan sekadar menjadikan AI sebagai lapisan teknologi tambahan, melainkan sebagai model operasional baru,” ujar Gary Cohn, IBM Vice Chairman, dikutip pada Selasa, 26 Mei 2026.
Adopsi AI di Level Direksi Meningkat
Temuan lain menunjukkan, secara global sebanyak 70 persen organisasi telah memiliki Chief AI Officer (CAIO) pada 2026, meningkat signifikan dibandingkan 17 persen pada 2025.
Secara global, organisasi dengan pendekatan AI-first di level C-suite disebut mampu menjalankan 10 persen lebih banyak inisiatif AI dibandingkan perusahaan sejenis.
Managing Director IBM Consulting Asia Pacific Juhi McClelland menilai, perusahaan di Asia Pasifik kini mulai bergerak dari tahap eksperimen menuju implementasi AI yang lebih strategis.
Baca juga: Adopsi AI hingga Masuknya Pemain Baru Jadi Tantangan Industri 2026
Menurutnya, tantangan ke depan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga kesiapan organisasi dalam mengelola perubahan.
“Keberhasilan implementasi AI akan sangat ditentukan oleh bagaimana para pemimpin memberdayakan talenta, merancang ulang peran, menyempurnakan proses kerja, serta menerapkan AI secara bertanggung jawab di seluruh organisasi,” jelas Juhi.
AI Diproyeksikan Dominasi Pengambilan Keputusan
Sementara itu, General Manager and Technology Leader IBM ASEAN Catherine Lian mengatakan perusahaan di Indonesia mulai menempatkan AI sebagai penggerak utama kepemimpinan dan daya saing bisnis.
Hal tersebut terlihat dari meningkatnya integrasi AI dalam proses strategis maupun operasional perusahaan. Dari sisi organisasi, sebanyak 85 persen CEO di Indonesia menilai pemimpin di setiap fungsi bisnis perlu memiliki pemahaman teknologi yang kuat.
“Para CEO di Indonesia terus mempercepat ambisi mereka dalam pemanfaatan AI, dengan melampaui tahap uji coba dan mulai menempatkan AI sebagai penggerak utama kepemimpinan, daya saing, serta kinerja bisnis,” tegas Catherine.
Baca juga: Akselerasi Adopsi AI Butuh Ekosistem dan Kesiapan Infrastruktur
Lebih lanjut, 60 persen responden memperkirakan peran Chief Human Resources Officer (CHRO) akan semakin penting dalam beberapa tahun mendatang. Studi tersebut juga menunjukkan penggunaan AI diperkirakan akan semakin dominan dalam pengambilan keputusan bisnis.
Pada 2030, sekitar 48 persen keputusan operasional dengan parameter yang jelas diproyeksikan akan diambil sepenuhnya oleh AI tanpa campur tangan manusia, meningkat dari 24 persen saat ini.
Meski demikian, faktor sumber daya manusia dinilai tetap menjadi penentu keberhasilan implementasi AI. Sebanyak 75 persen CEO di Indonesia menyatakan keberhasilan AI lebih ditentukan oleh tingkat adopsi manusia dibandingkan teknologinya sendiri.
IBM juga mencatat, pada periode 2026-2028 sekitar 30 persen pekerja di Indonesia diperkirakan perlu menjalani pelatihan keterampilan baru untuk menjalankan peran berbeda. Sementara itu, 52 persen lainnya membutuhkan peningkatan keterampilan agar dapat bekerja lebih efektif di posisi saat ini. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


